Jambi - Seorang pria berinisial AE (40) diamankan oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jambi dikarenakan telah menyebarkan berita bohong atau hoax di sosial media Facebook. 

Berita bohong yang disebar luaskannya yaitu adanya seorang warga tewas setelah dicekik polisi. Penyebaran hoax ini terjaring oleh tim siber Ditreskrimsus Polda Jambi. 

Direktur Reskrimsus Polda Jambi Kombes Pol Thein Tabero menyampaikan penyebaran hoax sangat berbahaya, terlebih lagi menyasar kepada salah satu institusi yaitu pihak kepolisian. 

"Pelaku ini hanya meneruskan video ke grup Facebook nya, tanpa membaca caption dan tidak berusaha untuk mengetahui kebenaran isi berita tersebut. Ini sangat bahaya," ujarnya kepada wartawan di Mapolda Jambi, Rabu (2/10/2019) kemarin.

Dijelaskannya, pelaku ini dengan sengaja mengambil dan meneruskan video dari akun facebook berinisial AM, yang ternyata kejadian dalam video berbeda dengan narasi yang di posting. Sebenarnya, kejadian dalam vidio saat itu polisi sedang melakukan razia kendaraan bermotor di wilayah hukum Polda Kalimantan Barat. Warga yang kena razia, berlagak kesurupan dengan meronta-ronta agar tak ditilang. 

"Pria berinisial AM kini sedang kita selidiki keberadaannya," jelasnya. 

Adapun, kronologi kejadian pada tanggal 1 Oktober 2018, penyidik subdit 5 Ditkrimsus Polda Jambi telah melaksanakan pengamanan akun beserta pemilik akun dengan atas nama Facebook Ambo Eleng 40 tahun, pekerjaan swasta di salah satu klinik laboratorium di kota Jambi.

Diketahui, Pada tanggal 30 September sekira pukul 21.00, pemilik akun Facebook AE telah mengirim video berdurasi 0,59 detik yang belum tentu kebenarannya.

Dalam video tersebut tertuang caption yang dibuat oleh pemilik akun AM yang bertuliskan "demonstran tewas dicekik aparat, sudah minta ampun masih ditekan tulang punggung dan lehernya dan tangan ditarik ke belakang hingga akhirnya tewas". 

Pelaku dijerat pasal 14 Junto pasal 15 UU nomor 1 tahun 1946, tentang peraturan hukum pida dan/atau pasal 28 ayat 1 UU RI no 11 tahun 2008 tentang perubahan atas UU RI nomor 19 tahun 2018 tentang informasi dan transaksi elektronik. 

"Ancaman penjaranya selama 10 tahun," tandas Thein Tabero. (uya)


loading...