Terinspirasi Anak yang Sudah Tiada

Batanghari - Setiap yang hidup, pasti akan dipanggil oleh Sang Pencipta. Kapan, dimana, hanyalah Allah Yang Maha Tahu. Bagi keluarga yang ditinggalkan, janganlah terlampau larut dalam kesedihan setelah ditinggalkan. Kita harus kuat dan bangkit dari kedukaan tersebut. 

Hal ini dialami oleh sepasang suami istri, Mugo (46) dan Astuti (40), warga Lorong Nusantara RT 10 LK II Pal 4 Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Muara Tembesi yang bangkit dari duka mendalam setelah ditinggalkan pergi anak sulungnya Melani Diah Aziizi 19 ke haribaan Illahi. Astuti membuka usaha bakso dan suaminya membuka usaha air isi ulang yang dimasak. 

Kepada Halojambinews, Minggu (15/03/2020), Astuti menceritakan bahwa insipirasi itu datang sebelum 40 hari anak sulungnya yang selalu bertutur bahasa lembut tersebut meninggalkan mereka.

" Waktu itu, saya dan suami serta si bungsu Anna Althafu Bisa ingin makan cilok di salah satu warung di Simpang Terusan. Saya melihat cara pembuatan cilok tersebut, sangatlah mudah. Lalu saya ingat dengan mendiang, yang suka dengan cilok tersebut. Saya langsung mendapat inspirasi untuk membuka usaha membuat bakso, yang cara membuatnya tak jauh beda dengan membuat cilok" ungkap Astuti.

Kemudian, dengan modal dan kekuatan batin yang ada, akhirnya Astuti dibantu suaminya, membuka warung bakso yang diberi nama Bakso Melnis, Bakso Melani dan Nisa. Tidak hanya itu, Astuti juga menyediakan nasi goreng serta minuman segar lainnya.

" Alhamdulillah, usaha bakso plus nasi goreng dan minuman yang saya jual di teras rumah, yang juga saya posting di medsos, berjalan dengan lancar dan banyak yang datang dan pesan melalui sms untuk diantar ke rumah pemesan. Sekarang saya juga buka cabang di Jalan Sungai Abang Pal 5, di rumah orang tua saya." kata Astuti tersenyum.

Setelah usaha Bakso Melnis berjalan, suaminya Mugo, yang juga sebagai ketua RT, membuka usaha air masak isi ulang yang diantar ke setiap rumah pelanggannya.

" Kekuatan itu datang melihat usaha istri saya berjalan. Saya lihat kayu bakar bertumpuk dipekarangan, akhirnya saya buka usaha air masak isi ulang. Juga melalui medsos, usaha saya berkembang dan mendapat langganan 80 rumah tangga." tutur Mugo.

Lanjutnya, usaha memasak air untuk kebutuhan air minum pelanggan tersebut, dikerjakan sendiri. Namun melihat pesanan yang meningkat setiap harinya, akhirnya Mugo dibantu keluarganya sendiri untuk bagian memasak.

" Awalnya sendiri memasak air. Karena pesanan banyak, saya dibantu anggota keluarga dari pihak ayah, membantu masak air. Alhamdulillah, pekerjaan saya menjadi terbantu" sambungnya.

Dari hasil menjual air masak isi ulang dan antar alamat tersebut, Mugo mendapat rezeki sebanyak 300 ribu perharinya.

" Alhamdulillah, saya dapat rezeki setiap harinya sebanyak 300 ribu. Terimakasih Ya Allah" ujar Mugo sambil bersyukur.

Sungguh luar biasa perjuangan Astuti dan Mugo ini. Hal ini bisa dijadikan contoh bagi kita semua, bahwa sesuatu hal sudah diatur oleh Allah SWT. Yang penting, niat suci tersebut mampu dijalankan hati yang ikhlas.

Kepada Halojambinews, Astuti dan Mugo berpesan, janganlah berlarut-larut dalam kesedihan karena ditinggal orang yang sangat dicintai. Bangkitlah menatap masa depan dengan berusaha yang halal. Dan jangan lupa sisihkan untuk anak yatim, fakir miskin dan sadarkah ke mesjid.(Fri)