Batanghari - Bawang merah adalah merupakan komoditi hortikultura yang penting dan dibutuhkan di Indonesia. Bawang merah yang tergolong sayuran rempah ini, dibutuhkan sebagai pelengkap bumbu masakan guna menambah cita rasa dan kenikmatan dalam makanan. Oleh karena itu kebutuhan akan bawang merah terus meningkat.

Di Kabupaten Batang Hari sendiri, prospek menanam bawang merah sangatlah tinggi. Asalkan diiringi dengan kemauan yang besar serta pengetahuan akan bercocok tanam. Hal ini sudah dibuktikan dalam uji coba oleh salah satu petani di Kampung Tengah Desa Sungai Buluh Kecamatan Muara Bulian, yakni Sudarto yang kerap disapa dengan Haji Hendro.

Dengan bibit unggul yang didatangkan dari Jawa, Sudarto berhasil memanen bawang merah lima belas sampai dua puluh lima kilo, dari bibit sebanyak satu kilo.

" Dari uji coba saya menanam bawang merah dari bibit Jawa, dari satu kilo bibit saya berhasil memanen sebanyak 15 sampai 25 kilo bawang. Malahan, bawang merah ini tak perlu disemprot lagi dengan insektisida. " kata Sudarto.

Di samping itu, sambungnya, iklim dan unsur tanah di Batang Hari, sangatlah menunjang untuk bercocok tanam bawang merah, apalagi pada masa penanaman April sampai dengan Oktober.

" Pada musim kering dari bulan April sampai Oktober, adalah masa baik untuk menanam bawang. Keadaan tanah yang kering, membuat ulat bawang tidak dapat berkembang." terangnya lagi.

Oleh karena itu, kemauan masyarakat untuk menanam bawang ditopang perhatian serta penyuluhan akan teknologi dari pemerintah, sangatlah penting dan mampu membawa menuju swasembada bawang merah.

" Selain kemauan besar untuk menanam bawang merah itu sendiri, sudah barang tentu perhatian dari pemerintah baik penyuluhan serta teknologi yang baik, akan bisa meraih sisi baik menuju swasembada bawang merah " ujar Sudarto.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Batang Hari , Mara Mulya Pane, kepada Halojambinews, mengatakan bahwa

pembudidayaan bawang merah ini sudah disosialisasikan kepada masyarakat petani melalui uptd di setiap kecamatan.

" Hal ini sudah kami terapkan kepada masyarakat petani sekalian penyuluhan tata cara penanaman dengan teknologi.

Sepeti di Balai Benih Induk di Rasau, penanaman bawang merah ini, berhasil." kata Pane.

Namun yang menjadi kendala sekarang adalah kurangnya minat dan kemauan masyarakat dalam hal bercocok tanam bawang merah tersebut.

" Kalau masyarakat petani mempunyai minat dan keinginan yang besar dalam memproduksi bahan penting sebagai bumbu dapur ini, kami siap memberikan bantuan, baik penyuluhan serta penerapan teknologi dalam hal bercocok tanam, merawat sampai memanen bawang merah tersebut" pungkas Pane. (Fri)

 

 

 

.