Kini Jadi Destinasi Ekowisata Pangkal Babu Tanjabbar

Kuala Tungkal - Mata lelaki tua itu masih menyiratkan semangat yang tinggi, meski tubuhnya terlihat semakin menua dan renta namun dia Pak Ahmadi (78) nampak sibuk "sebagai tuan rumah" lelaki ini menyapa dan menyalami banyak orang yang datang diacara peresmian Destinasi Ekowisata Hutan Mangrove Pangkal Babu, Desa Tungkal 1 Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjungjabung Barat oleh Bupati Tanjungjabung Barat Dr. Ir H Safrial siang itu Rabu (31/1). Mengenakan kemeja safari batik bermotif warna biru laut Pak Ahmadi tersenyum menyalami Halo Jambi News yang menyapanya, belum mendapat kesempatan berbincang-bincang dengannya ditengah keramaian itu, acara sedang berlangsung di mana Bupati tengah memberikan kata sambutannya, sehingga tertunda sejenak untuk "mengobrol" tentang tanaman mangrove Pangkal Babu. Berikut hasil liputan Halo Jambi News di Hutan Mangrove Pangkal Babu, Tanjungjabung Barat.

Lelaki tua ini telah 3 kali mendapat penghargaan di bidang lingkungan hidup, selaku pembudidaya tanaman mangrove dari kementerian terkait. Pak Ahmadi telah berjasa menjadikan kawasan hutan lindung mangrove Pangkal Babu tetap lestari hingga kini adalah karena kerja keras lelaki ini sejak muda, diawal keberadaannya sebagai petani dan nelayan di kawasan tersebut pada 40 tahun silam. Kecintaan lelaki ini terhadap kehidupan mangrove berawal dari kecemasannya terhadapan ancaman abrasi pantai Pangkal Babu yang akan mengikis seluruh permukaan wilayah ini secara berlahan, sehingga menyadari kondisi tersebut lelaki asal Sulawesi Selatan itu mengatur setrategi agar pantai Pangkal Babu tetap berpagar tanaman mangrove dengan mengumpul biji-bijian tanaman ini yang terhanyut dialiran sungai dari suatu kesabaran yang luar biasa dia berhasil melakukan penyemaian bibit mangrove. 

Setelah puluhan tahun kemudian dari hasil kerja kerasnya bersama masyarakat Pangkal Babu lainnya melalui kelompok kerja yang didirikannya Pak Ahmadi dan rekan-rekannya telah berhasil membuat kawasan Pangkal Babu tetap lestari tanpa terjadi penebangan liar dan kerusakan alam akibat abrasi pantai dapat "diurungkan" dengan upayanya melakukan pembudidayaan mangrove, dari penyemaian bibit mangrove hingga bertunas dan menjadi pohon-pohon kayu bakau dengan berbagai speciesnya bertumbuh kembang di sini berkat sentuhan tangan Pak Ahmadi dan warga kampung Pangkal Babu.

Mungkin orang yang paling bahagia atas diresmikannya kawasan Pangkal Babu pada Selasa (31/12) di penghujung tahun lalu oleh Bupati Tanjungjabung Barat sebagai Destinasi Ekowisata Hutan Mangrove Pangkal Babu adalah Pak Ahmadi, lelaki tua ini meskipun tidak secara kentara memperlihatkan ekspresi gembiranya dihadapan semua pengunjung yang hadir, namun tersirat dimatanya, suatu sinar semangat berbaur kebahagian yang tersamar, saat bincang-bincang dengan Halo Jambi Pak Ahmadi terlihat sangat antusias berkisah tentang perannya dalam melestarikan hutan mangrove Pangkal Babu." Saya sudah tua, namun saya berharap anak-anak saya dan generasi muda di sini dapat melanjutkan pekerjaan pelestarian hutan mangrove di sini, sudah banyak anak-anak di sini yang memahami arti pentingnya pelestarian alam, perjuangan saya menjadikan Pangkal Babu sebagai kawasan pantai yang lestari semoga dapat diteruskan oleh mereka" ujarnya.

Mata Pak Ahmadi beralih memandang kesekeliling persekitaran tempatnya berdiri di jembatan pendesterian kayu yang dibangun pemerintah daerah ini disela-sela suburnya pohon-pohon kayu bakau tumbuh di tempat itu, lalu dia berkata."Yang saya usahakan disini, itu tanpa pamrih, ada atau tanpa uang saya tetap bekerja, karena itu menyangkut apa tuh benteng kebun masyarakat juga ikan itu bukan apa ikan dan kepiting berkembangnya di hutan mangrove, jadi kedepan saya mngharapakan lebih baik lagi, saya sudah nampakkan perjuangan saya disini beginilah, jadi mungkin saya juga usia sudah lanjut, saya mengajak anak-anak untuk cinta hutan mangrove, namun saya sekarang masih tetap jadi ketua kelompok tani hutan mangrove, saya minta satu yang menggantikan saya, karena belum ada betul, jadilah walau tak bisa melebihi saya, satu kampung yang saya benahi dahulu, Alhamdulillah terwujud satu kampung dulu tadinya hutan, sekarang Alhamdulillah," ungkap Pak Ahmadi dengan suara parau menahan emosi haru dan rasa bahagianya.

Siang itu Pak Ahmadi didampingi sang istri yang selalu setia dan mendukungnya dalam melestarikan hutan mangrove."Istri saya bahkan sekarang sudah menjadi perempuan tani pembudidaya bibit mangrove, dia sudah ahli dalam menanam bibit mangrove dan hapal berbagai species dan jenis mangrove yang ada di sini," sebutnya.

Tak muluk-muluk harapan Pak Ahmadi terhadap dirinya, dia hanya berharap kampungnya berkembang menjadi Kampung Wisata Mangrove, agaknya harap orangtua ini sudah mulai terwujud dengan lestari ya hutan bakau Pangkal Babu dan menjadi destinasi ekowisata dan tempat penelitian biota pesisir yang penting bagi ilmu pengetahuan. (Imus)