Home / Mata Jambi / Dampak Perceraian Terhadap Psikologi Anak

Dampak Perceraian Terhadap Psikologi Anak

Oleh : Hila Liani
Mahasiswi UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi.
Jurusan Pendidikan Matematika

Di Indonesia dalam kurun waktu satu tahun sedikitnya terdapat 100.000 anak yang mengalami dampak perceraian orang tua. Selain itu, korban perceraian menduduki peringkat kedua dari total pengaduan Kasus-Kasus Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Tidak hanya itu, kejadian perceraian di masyarakat cenderung terus meningkat. Dengan demikian, akan semakin banyak anak yang mengalami perubahan hidup akibat dari perceraian orang tua.

Keputusan orang tua untuk melakukan perceraian tidak lepas dari dampak yang akan diterima oleh anak, kenapa demikian ?

Karena kualitas hidup anak bukan hanya diukur dari segi fisik atau mental saja, namun juga diukur dari segi kesejahteraan ekonomi, kesehatan, pendidikan, interaksi sosial, kepedulian orang tua dan yang lainnya. Coba bayangkan jika diantara hal-hal tersebut ada yang tidak terpenuhi, maka kemungkinan besar akan menimbulkan dampak terhadap mental anak.

Dengan kondisi orang tua yang tidak lengkap dan kondisi anak yang cenderung memiliki banyak masalah sehingga perkembangan kehidupan anak dapat terganggu. Nah, kali ini saya akan sedikit menjelaskan dampak dari perceraian orang tua terhadap anak. Berikut diantaranya :

1.) Kesehatan fisik.

Fungsi fisik anak dari keluarga bercerai cenderung lebih lemah. Bisa jadi disebabkan oleh kurangnya kasih sayang dari orang tua, kondisi keuangan yang sedikit menurun, dan banyaknya hal yang menjadi beban pikiran anak. Maka dari itu hal tersebut dapat memicu kesehatan fisik anak.

2.) Hubungan anak dengan orang tua.

Efek utama dari perceraian adalah melemahnya hubungan antara orang tua dan anak. Setelah terjadinya perceraian, orang tua cenderung lebih terpokus terhadap kehidupan mereka masing-masing, sehingga terjadi kesenggangan antara hubungan anak dan orang tua.

3.) Kesejahteraan psikologis/mental.

Untuk setiap anak yang mengalami perceraian orang tua akan memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih rendah dari pada anak keluarga utuh. Hal ini dapat terjadi karena kurang mendapat kasih sayang, perhatian dari kedua orang tua, sehingga mereka merasa kurang beruntung terhadap hidupnya.

Itulah dampak yang didapat dari perceraian orang tua, maka dari itu lebih baik menjaga keutuhan keluarga, agar kehidupan anak juga ikut terjaga. Namun, jika perceraian tidak dapat diatasi dalam keluarga kalian, maka wajib memperhatikan beberapa hal berikut, agar anak tetap memiliki kualitas hidup yang baik :

1.) Orang tua (ayah/ibu) sebaiknya tetap menjaga komunikasi, meluangkan waktu, memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak, agar perilaku anak tetap terjaga dari hal-hal yang bersifat merugikan.
2.) Ayah tetap memberi nafkah kepada anak walaupun sudah tidak lagi tinggal bersamanya.(jika anak dalam asuhan ibu).
3.) Orang tua (ayah/ibu) tetap memfasilitasi anak untuk bertemu dengan orang-orang terdekatnya agar anak mendapatkan dukungan sosial.

Nahh, itulah realita-realita yang di dapat dari perceraian dan tidak sedikit dampak buruk dari hal tersebut. Jadi sebaiknya usahakanlah menyelesaikan permasalah bukan dengan perceraian, agar banyak anak yang mendapatkan kebahagian yang utuh dan dari keluarga yang utuh pula.(***)

About Halo Jambi

Baca Juga

Hadiri Peringatan Maulid Nabi, Fachrori Ajak Jamaah Teguhkan Kecintaan pada Rasulullah

Jambi, halojambi.id – Plt Gubernur Jambi Fachrori Umar menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 …