Home / Bisnis / Rupiah Melemah, Eksportir Dapat Untung

Rupiah Melemah, Eksportir Dapat Untung

JAMBI, halojambi.id – Nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS melemah. Saat ini, Rabu (05/09/2018) nilai tukar rupiah menyentuh angka Rp 15.079 per dollar AS. Hal ini dapat berdampak langsung ke daerah khususnya di Provinsi Jambi, terlihat dari sisi ekspor dan impor.

Tim Advisory dan pengembangan ekonomi Bank Indonesia Jambi, Fadhil Nugroho mengatakan, yang akan berdampak dan terasa langsung adalah impor. Ini terlihat dari transaksi impor yang menurun. Pengusaha tentu akan menahan pembelian barang impor.

“Sudah sejak bulan lalu saat harga Rp 14.400 an para importer sudah mengerem nih, kalau beli mereka harus menyediakan rupiahnya. Jadi ya otomatis mereka ngerem,” katanya.

Sebaliknya, eksportir tentu menjadi untung dibalik melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Jadi kaya raya dong para eksportir,” sebut Fadhil.

Untuk itu, Bank Indonesia terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah untuk menentukan angka optimal nilai tukar rupiah tersebut.

Sebagai informasi, data BPS mencatat nilai ekspor asal Provinsi Jambi pada bulan Juli 2018 naik sebesar 13,51 persen dibandingkan bulan sebelumnya yaitu dari US$ 231,57 juta pada bulan Juni menjadi US$ 262,87 juta pada bulan Juli 2018. Sebaliknya, Nilai impor Provinsi Jambi Juli 2018 turun sebesar 11,44 persen dibanding bulan sebelumnya, yaitu dari US$ 5,12 juta pada bulan Juli menjadi US$ 4,54 juta pada bulan Juli 2018.

Penyebab utama naiknya ekspor Provinsi Jambi bulan Juli 2018 adalah naiknya nilai ekspor pada kelompok pertanian sebesar 57,54 persen dan kelompok industri yang naik sebesar 50,33 persen. Nilai ekspor sampai dengan Bulan Juli 2017 yaitu sebesar US$ 1.479,35 juta. Ekspor Jambi periode yang sama tahun 2018 lebih tinggi dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2017, yaitu naik sebesar 14,46 persen.

Sementara itu, Nilai impor bulan Juli 2018 sebesar US$ 4,54 juta, turun dibanding bulan sebelumnya. Penurunan impor ini dipicu oleh turunnya nilai impor pada kelompok bahan kimia dan sejenisnya, serta kelompok hasil industri dan lainnya. Sedangkan pada Bulan Juli tidak ada impor kelompok komoditi karet dan sejenisnya.

Tak hanya itu, melemahnya nilai tukar rupiah juga akan berpengaruh pada inflasi. Terutama barang-barang kebutuhan yang diimpor.

“Barang impor sudah mahal, dijual lagi kesini tambah mahalkan,” tegasnya.

Namun, biasanya untuk barang-barang yang diimpor oleh Provinsi Jambi adalah barang bahan baku dan suku cadang perusahaan seperti mesin yang tentunya pembeliannya sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari melalui perjanjian perdagangan .

Lebih lanjut Ia menjelaskan, jika inflasi lebih banyak dipengaruhi factor internal dari dalam. “Tapi jangan salah juga ayam ada konten impornya juga, vaksinnya impor pengaruhnya kesana. Pokoknya ada pengaruh untuk setiap komoditas yang ada konten impornya,” imbuhnya.

Dijelaskannya, Bank Indonesia di daerah tentu bertugas untuk menstabilkan dan berupaya mendorong ekspor ditengah melemahnya rupiah. “Kita perkuat ekspor kita, misalnya kayak kelapa sawit dan karet kami juga turut membantu petani dan mendukung produksi karet tetap bersih agar bisa diekspor. Kalau untuk batubara secara otomatis, ekspornya langsung naik,” pungkas dia. (uya)

About Halo Jambi

Baca Juga

Lihat! Empat Uang Kertas Ini Tak Berlaku Lagi Tahun 2019

  Jambi, halojambi.id – Bank Indonesia telah menarik dan mencabut peredaran empat pecahan Uang Kertas …