Halojambi.id – Siapa sangka, dari sebuah dusun di pinggir Sungai Progo, lahir kisah inspiratif tentang semangat perempuan desa yang berhasil “menyulap” kacang koro—yang dulu dipandang sebelah mata—menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

Di sebuah rumah produksi sederhana di Dusun Babakan, Kalurahan Poncosari, Srandakan, Bantul, aroma tempe hangat bercampur dengan wangi kue panggang menyambut setiap tamu yang datang. Inilah UMKM Berlian Progo, kelompok yang kini menjadi simbol kebangkitan pangan lokal berkat pendampingan dari Pertamina Patra Niaga.

Dari Dapur Rumah ke Pasar yang Lebih Luas

Lima tahun lalu, usaha ini hanyalah aktivitas kecil sekelompok ibu rumah tangga yang ingin menambah penghasilan tanpa meninggalkan keluarga. “Awalnya kami hanya membuat tempe sederhana dari kacang koro. Tidak ada yang menyangka hasilnya bisa sejauh ini,” tutur Yunarti, Ketua Kelompok Berlian Progo, sambil tersenyum bangga.

Lewat program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Patra Niaga, mereka mendapat pelatihan manajemen, bantuan alat produksi, dan pendampingan pemasaran. Sedikit demi sedikit, inovasi lahir. Kini, tempe koro bukan lagi satu-satunya produk andalan. Ada Bakpia Koro, Cookies Koro, Tempe Bacem Frozen, Tepung Koro, hingga Susu Koro—semuanya berbahan dasar kacang yang dulu dianggap “tidak laku dijual”.

Setiap tiga hari, kelompok ini bisa memproduksi hingga 10 kilogram olahan. Permintaan pun datang tak hanya dari Bantul, tapi juga daerah lain di Yogyakarta dan sekitarnya.

Menanam, Mengolah, dan Menjaga Alam

Tak berhenti di produksi, para ibu Berlian Progo juga ikut menanam koro di bantaran Sungai Progo. Mereka bahkan menjual bibitnya agar masyarakat sekitar ikut menanam. “Kami ingin usaha ini berkelanjutan. Kalau bahan bakunya ada di sekitar, semua bisa ikut menikmati hasilnya,” kata Ester, Manajer Pemasaran Berlian Progo.

Langkah sederhana ini tak hanya menjaga pasokan bahan baku, tapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal—sebuah contoh nyata ekonomi sirkular di tingkat desa.

Dampak Nyata di Tengah Masyarakat

Bagi warga Dusun Babakan, kehadiran rumah produksi ini membawa harapan baru. Banyak ibu rumah tangga kini punya penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan anak-anak mereka. “Dulu banyak yang ragu. Sekarang mereka malah berlomba ikut produksi,” ujar Agus Riono, Kepala Dusun Babakan.

Pendapatan meningkat, semangat tumbuh, dan rasa percaya diri pun ikut terangkat. Dari bahan sederhana, tumbuh nilai besar: kemandirian perempuan.

Pertamina dan Komitmen untuk UMKM

Dalam kegiatan Media Gathering Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel di Yogyakarta (5–7 November 2025), para peserta berkesempatan mengunjungi Berlian Progo sebagai salah satu mitra binaan unggulan.

“UMKM Berlian Progo membuktikan bahwa program CSR bukan sekadar bantuan, tetapi kolaborasi yang menumbuhkan kemandirian. Inilah wujud nyata pemberdayaan ekonomi perempuan di desa,” ujar Rusminto Wahyudi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Sumbagsel.

Rusminto menambahkan, program CSR Pertamina menitikberatkan pada pembangunan kapasitas, penyediaan infrastruktur produksi, hingga pemasaran digital agar UMKM bisa berdaya saing secara berkelanjutan.

Dari Bantul untuk Indonesia

Kini, Tempe Koro Berlian Progo bukan sekadar produk pangan, melainkan simbol ketekunan dan kreativitas perempuan desa. Dari bahan lokal yang dulu dianggap remeh, lahir peluang ekonomi baru yang menginspirasi.

Dengan sentuhan inovasi dan dukungan CSR Pertamina Patra Niaga, kacang koro bangkit kembali—menjadi saksi bahwa kolaborasi antara masyarakat dan korporasi bisa menumbuhkan kemandirian ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, dan membuka jalan bagi UMKM lain di seluruh Indonesia.