Program Layanan Produksi Media Kategori Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro atau OPK Rawan Punah dalam lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 dapat terlaksana dengan baik.
Launching Film Dokumenter "Ayu Manit: Antara Persepsi, Jati Diri dan Tradisi" Berlangsung Lancar ,Jumat (28/08/2026) pukul 09.00 wib di gedung LPTQ kabupaten Sarolangun.Acara di buka langsung oleh istri Bupati kabupaten Sarolangsung Hj. Risha Fitria Hurmin .
Produser Eksekutif Film Redho Syaputra mengatakan Melalui film dokumenter “Ayu Manit : Antara Persepsi, Jati Diri dan Tradisi”, kami menghadirkan rekam jejak perjuangan semesta dalam menentukan dogma. Film ini membawa pesan mendalam bahwa sebagai perempuan, seorang tidak harus memilih antara persepsi publik, jati diri, maupun tradisi. Sebab ketiganya dapat berjalan secara harmoni dan beriringan.
Di Tambahkan Redho kegiatan ini bukan sekadar sebuah produksi film, buku, maupun dokumentasi karya seni. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan terhadap sosok maestro yang telah mendedikasikan hidupnya untuk seni tari tradisi. Perjalanan Ibu Ayu Manit menjadi bagian penting dari sejarah kesenian yang perlu dicatat, dikenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya .
Proses kegiatan ini telah dimulai sejak bulan Maret, melalui berbagai tahapan produksi, mulai dari proses persiapan dan pengambilan gambar untuk film dokumenter, pendokumentasian karya tari, hingga proses penyuntingan film dan penyusunan buku. Seluruh tahapan tersebut kami lakukan dengan harapan dapat menghadirkan sebuah dokumentasi yang tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan manfaat yang berkelanjutan. Adapun hasil dari kegiatan ini meliputi film dokumenter tentang perjalanan dan karya Ibu Ayu Manit, dokumentasi utuh dari tiga tari tradisi, yaitu Tari Kain Kromong, Tari Gunjing, dan Tari Ayam Biring, serta video dan buku tutorial yang memuat pembelajaran dari ketiga tari tradisi tersebut.

“Kami menyadari bahwa dokumentasi merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga keberlanjutan sebuah tradisi. Ketika sebuah karya seni hanya diwariskan melalui ingatan dan praktik lisan, terdapat kemungkinan bahwa sebagian pengetahuan akan hilang seiring berjalannya waktu. Oleh sebab itu, dokumentasi melalui media film, video, dan buku diharapkan dapat menjadi arsip yang dapat dipelajari kembali, digunakan sebagai bahan pendidikan, serta menjadi sumber inspirasi bagi para pelaku seni di masa yang akan datang,”ujarnya.
Redho berharap kisah perjalanan Ibu Ayu Manit dapat menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa pelestarian seni dan budaya membutuhkan keberanian, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar serta berbagi. Seni tradisi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dapat terus hidup dan berkembang sesuai dengan zaman.
“Kegiatan ini juga kami maknai sebagai sebuah penanda atas pergerakan perempuan dalam dunia kesenian. Perjalanan seorang perempuan yang memilih untuk berkarya, mengajar, menciptakan, dan menjaga tradisi merupakan sebuah pesan yang sangat kuat. Dari sosok Ibu Ayu Manit, kita dapat melihat bahwa perempuan bukan hanya penerima warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi pencipta, penggerak, pendidik, dan pionir dalam keberlanjutan seni dan budaya,”jelasnya.
Dia berharap semangat yang telah dinyalakan oleh sang maestro dapat terus diteruskan oleh generasi muda, khususnya para perempuan. Semangat untuk berani bermimpi, berani berkarya, berani mengambil peran, dan berani menjadi bagian dari perubahan. Sebab, ketika perempuan diberikan ruang untuk tumbuh dan berkarya dalam seni dan budaya, sesungguhnya kita sedang membuka jalan bagi lahirnya generasi pendidik dan pelestari budaya yang lebih kuat.
“Harapan kami terhadap kegiatan ini adalah agar hasil yang telah diproduksi tidak berhenti sebagai luaran program semata. Film dokumenter, video pertunjukan, serta buku dan video tutorial yang dihasilkan diharapkan dapat terus dimanfaatkan setelah kegiatan ini selesai. Kami berharap materi tersebut dapat digunakan oleh komunitas seni, sanggar tari, lembaga pendidikan, peneliti, mahasiswa, guru, seniman, maupun masyarakat umum sebagai media untuk mengenal dan mempelajari tari tradisi,”kata Redho.
Dirimya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah mendukung proses kegiatan ini, baik dalam bentuk gagasan, tenaga, waktu, pikiran, maupun dukungan lainnya. Terutama kepada Ibu Ayu Manit yang telah membuka ruang bagi kami untuk mengenal, merekam, dan belajar dari perjalanan serta karya beliau.
“Terima kasih juga kepada seluruh tim produksi, para penari, seniman, narasumber, komunitas, serta pihak-pihak yang telah terlibat dalam setiap tahapan kegiatan sejak proses persiapan, produksi, hingga penyelesaian seluruh luaran program,”ujarnya.
“Semoga apa yang telah kita kerjakan bersama dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan menjadi bagian dari ikhtiar kita dalam menjaga kekayaan seni dan budaya Indonesia,”harapnya.(Gun)