Batanghari - Terkait sikap yang tidak mengenakkan dan dapar dikatakan menghalang-halangi liputan resmi beberapa wartawan resmi Kabupaten Batanghari dalam acara Menpora Meresmikan Renovasi Pustaka SDN 163/1 Bulian Jaya Maro Sebo Ilir beberapa waktu lalu, sangat disesalkan oleh beberapa aktifis Batanghari, salah satunya Ketua Gema Puja Batanghari, Robert Panggabean.
Hal ini diungkapkannya kepada Halojambinews, Senin (19/08/2019) di Muara Bulian.
" Para jurnalis cetak, online maupun televisi yang meliput giat Menpora Imam Nahrawi melakukan diakusi dengan siswa-siswi SDN 163/1 Bulian Jaya pada waktu itu, adalah liputan resmi, bukan liputan abal-abal. Tugas liputan tersebut sesuai dengan undangan Diskominfo Batanghari kepada mereka melalui wadah wartawan" kata Robert.
Seharusnya, pihak Tanoto Fondation, harus membuka ruang dan waktu untuk wartawan untuk dapat mengabadikan momentum Menpora beserta Bupati Batanghari sebagai dokumen untuk bahan pemberitaan.
" Pihak Tanoto Fondation, harus memberi ruang dan waktu beberapa menit kepada insan jurnalis untuk mengambil foto, bukannya menhalangi para pewarta tersebut dengan memblokir pintu masuk pustaka" ungkapnya kesal.
Yang paling membuat aktifis ini kesal lagi, sampai detik ini tak ada permintaan maaf secara kelembagaan dari Pihak Tanoto Fondation pimpinan Satrio ini kepada pihak resmi kewartawanan Batanghari atas sikap salah salah satu oknumnya yang dianggap sudah mengangkangi UU Pers.
" Karena tak ada permintaan maaf dari pihak Tanoto Fondation sampai detik ini, kami Gema Puja Batanghari akan mendampingi pihak kawan-kawan wartawan untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan Tanoto Fondation " paparnya lagi.
Sementara itu, ahli hukum Jambi Ferryansah Tanjung, mengatakan sikap oknum Tanoto Fondation tersebut jelas-jelas sudah tidak menghormati Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999.
" Jelas salah. Saya akan mendapingi secara hukum kawan-kawan pers Batanghari apabila akan menuntut pihak Tanoto Fondation secara resmi " pungkas Ferry. (Fri)