Di Duga Paket Operasional Pemeliharaan Jaringan Irigasi Parit Bidang Pengairan Tanjabtim Di Monopoli Oknum Dinas
Tanjabtim-Halojambi.id Sejak beberapa hari terakhir, proyek Penunjukan Langsung (PL) Rehabilitasi Pemeliharaan Jaringan Irigasi (Tebas Bayang) di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tanjab timur 2020 mendadak tenar dan menjadi topik perbincangan di warung copi.
hal ini menguatkan kecurigaan adanya kecurangan, karena sejak awal sebelum paket tebas bayang ini di tayangkan sudah berhembus isu pengaturan sehingga menjadi polemik.
Berdasarkan pemantauan laman Lpse tanjabtim dari tahun 2018-2019 ada sekitar 70 paket pertahun yang sudah dikerjakan dan di tahun 2020 sekitar 30 paket pertahun pemeliharaan rutin saluran sekunder parit tebas bayang di Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tanjung Jabung timur diwarnai dengan dugaan pengaturan bagi-bagi jatah kepada nama nama yang sudah tercatat namanya maupun titipan.
Paket Operasional pemeliharaan(OP) dengan nilai total pagu senilai Rp 30 juta-70 juta per paket tersebut, diduga ditunjuk secara langsung oleh Kabid Pengairan Dinas PUPR Tanjabtimur, Dedi Novrianika sesuai dengan nama yang sudah tertera.
Adapun, dana pekerjaan ini bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tanjabtimur.
Menariknya hal ini juga terungkap langsung oleh Kabid pengairan Dinas PUPR Tanjabtimur, Dedi novrianika saat dikonfirmasi belum lama ini. Dedi mengungkapkan, ia membenarkan bahwa ada sebanyak sekitar 30 paket pekerjaan tebas bayang/pemeliharaan rutin saluran sekunder parit yang khusus di bagi-bagikan sesuai daftar nama yang sudah ada.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Yudi Hariyanto saat dikonfirmasi Jika dugaan bagi bagi proyek ini benar adanya, maka sungguh ironis dan merupakan malapetaka.
“Meskipun anggaran proyek ini kecil Rp 30 juta-70 juta per paket namun pekerjaan nya juga mudah, lantaran diserahkan langsung dengan masyarakat Desa setempat. Dia juga menyebutkan, proyek pengairan ini perlu diawasi dengan ketat oleh pihak terkait sehingga tidak menimbulkan pekerjaan asal jadi saja sehingga bisa terjadi penggelembungan anggaran yang cukup besar.
Menurut dia, pengawas lapangan tentu menjadi peran utama dalam pelaksana tersebut. “Pengawasan lapangan jangan asal terima diatas meja saja hasil nya,” pungkasnya.(kms)