Batanghari - Usaha transportasi sungai memakai perahu Ketek bermesin tempel di Desa Pasar Terusan Kecamatan Muara Bulian, merupakan usaha yang terbesar di Kabupaten Batanghari dan beroperasi selama satu kali 24 jam. Uniknya, alat transportasi sungai yang sudah berjumlah sebanyak 150 unit ini, menggratiskan ongkos bagi anak-anak sekolah serta guru. 

Seorang pengemudi Ketek, Amri (49), Warga RT 07 Desa Terusan, kepada Halojambinews, mengatakan bahwa untuk anak sekolah dan guru yang menyeberang dari Desa Pasar Terusan Kecamatan Muara Bulian Terusan menuju Desa Terusan Kecamatan Maro Sebo Ilir, atau sebaliknya, tidak dipungut bayaran. 

" Kami menggratiskan ongkos mereka. Akan tetapi, kalau membawa motor, maka harus membayar 7 ribu rupiah. " kata Amri. 

Amri menerangkan, bahwa tarif yang dikenakan untuk penumpang baik yang pakai sepeda motor atau tidak, berbeda.

" Untuk penumpang yang bawa sepeda motor, harus bayar sebanyak Rp. 7 ribu. Itu walaupun satu sepeda motor dinaiki dua atau tiga orang. Kalau tanpa sepeda motor, cukup membayar Rp. 2 ribu perkepala." ucap Amri lagi. 

Selanjutnya, apabila ada penumpang minta diseberangkan pada waktu tengah malam, kondisi tarif berbeda dengan pagi maupun senja. Biaya ditetapkan sesuai dengan waktu dan kebutuhan. 

" Apabila ada penumpang satu atau dua orang, dan minta di antar ke seberang, biasa sesuai kondisi, untuk satu orang ada yang menyanggupi 20 ribu rupiah, maupun berdua. Ya, kondisinya berbeda." sambung Amri lagi. 

Sementara itu, banyak penumpang umum yang akan menyeberang, menyempatkan diri sambil bersantai dan minum serta mengisi perut di warung-warung di pinggir sungai. Biasanya, penumpang tersebut adalah pegawai maupun pedagang yang habis bekerja di Muara Bulian maupun Muara Tembesi. Salah satunya di warung milik Bibik Imas (50) warga RT 04 Desa Pasar Terusan.

" Ya. Banyak yang makan minum di warung Bibik sebelum menyeberang. Rata-rata mereka baru pulang kerja dari Muara Bulian dan Muara Tembesi." tutur Bik Imas. 

Dirinya bersyukur, sejak membuka warung pasca meninggal suaminya, pendapatan warungnya mampu membesarkan keempat orang anaknya. 

" Alhamdulillah. Pendapatan warung ini karena banyak penumpang ketek yang makan minum, bisa membesarkan anak-anak saya" ungkapnya lagi. 

Usaha transportasi penyeberangan ketek bermesin tempel 16 PK dan rata-rata menghabiskan bahan bakan solar 1,5 liter ini, mampu memberikan pemasukan bersih bagi pemili ketek sebanyak Rp. 50 ribu perhari. Sebanyak 150 buah ketek yang beroperasi, dibagi menjadi 2 sift, yakni pagi sampai siang, serta siang sampai malam. 

Kadangkala sift ini dirotasi. Bagi yang sift siang sampai malam, sesuai waktu dirotasi ke pagi sampai siang. 

Bagi ketek biasa berukuran panjang 12 meter dan lebar 2,4 meter, serta mampu membawa penumpang sebanyak 20 orang. 

Bagi ketek yang khusus membawa kendaraan seperti mini bus, mempunyai panjang 14 meter dan lebar 3 meter. ketek ini biasanya beroperasi ketika musim banjir dan kondisi debit air Sungai Batanghari tinggi. Permobil dikenakan biaya Rp. 50 ribu. (Fri)