Batanghari - Pada awal tahun 1990 nan silam, di pinggiran jalan Lintas Muara Bulian-Jambi Desa Pulau Betung, tampak berjejer pondok-pondok yang memajang ukiran kayu, seperti meja dan kursi, serta hiasan kayu lainnya berbentuk Ikan Arawana maupun naga. Ukiran kayu berbahan dasar Kayu Rengas tersebut, cukup mahal. Untuk satu set ukiran meja dan kursi, mencapai 2 sampai 5 Juta Rupiah. Ukiran Kayu Pulau Betung tersebut, sempat menjadi primadona Bagi Kabupaten Batanghari, tidak hanya terkenal di tingkat nasional, akan tetapi menembus pasaran Singapura, Malaysia dan Thailand. 

Namun sekarang, ukiran Pulau Betung yang sempat menjadi kebanggaan dan andalan Provinsi Jambi tersebut, seperti hilang ditelan bumi. Pondok-pondok tempat pemajangan ukiran kayu di pinggir jalan tersebut, sudah banyak yang tutup, dan banyak yang reot. Ada juga pondok tersebut masih kokoh, namun berganti fungsi menjadi warung makanan dan minuman. Ukiran kayu yang indah dipandang mata tersebut, pun tak tampak lagi keberadaanya.

Ketika Halojambinews menelusuri tentang ukiran kayu Pulau Betung tersebut, Minggu (03/02/2019), berhasil menemukan salah satu pengrajin ukiran tersebut. Namanya Jantik (49) warga RT 07 Desa Pulau Betung.  

Jantik mengatakan perihal mulai matinya usaha kerajinan ukiran kayu kebanggaan Kabupaten Batanghari serta Pemrov Jambi tersebut, pada awalnya karena pengrajin mulai kehabisan bahan dasar kayu yakni Kayu Rengas. 

" Bahan dasar Kayu Rengas yang kami pakai, sudah mulai habis dan jarang didapati. Itu sekitar awal 2010 nan lalu. Sebenarnya ada kayu pengganti seperti Kayu Durian, namun sulit juga didapat. Bisa kami dapati, cuma kayu durian yang sudah mati. Kalau kita beli batangnya yang hidup, nggak bisa, karena banyak pemilik yang menyandarkan hidupnya dengan hasil buah durian. " kata Jantik. 

Lanjutnya, selama ini pihak Pemkab Batanghari, dalam hal ini Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, selalu memberikan bimbingan kepada pengrajin bagaimana menjadikan hasil ukiran menjadi lebih baik dan berkualitas. Malahan, kerajinan Ukiran Pulau Betung ditampilkan di pameran tingkat nasional di Jakarta setiap tahunnya. 

" Pada pameran di Jakarta, hasil Ukiran Pulau Betung ini, laris manis dibeli masyarakat. Juga dipesan negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Setiap pameran, kita. mendrop ukiran dari sini sampai mencapai 4 truk kontainer " terang Jantik sambil tertawa. 

Pada 2016, malapetaka itu datang. Dirinya yang masih berproduksi bersama pengrajin lain, Sulaiman (50), tidak lagi diikutkan oleh Pemrov Jambi untuk pameran di Jakarta. Akibatnya, ukiran menjadi menumpuk. 

" Di tahun 2016, entah kenapa, ukiran kami tidak lagi diikut sertakan di pameran nasional. Padahal, laris manisnya ukiran ini, salah satunya adalah pembeli pada pameran tersebut. Akhirnya, ukiran tersebut, saya tumpuk di gudang dan rumah saya" ucap Jantik sambil menunjukkan ukirannya. 

Sampai sekarang, Jantik tidak mengerti, kenapa pemerintah tak mau lagi memperhatikan hasil Ukiran Pulau Betung yang notabenenya telah mengharumkan nama Jambi di tingkat nasional maupun internasional tersebut. 

Sekarang dirinya menghidupi keluarga dengan memproduksi kerajinan handel stik mobil yang dibuat dari kayu Sungkai dan Marelang. 

" Yaah, inilah sekarang kerja kami untuk menghidupi keluarga" tuturnya lirih. 

Ukuran Kayu Pulau Betung tersebut, sekarang hanya menjadi kenangan. Dari 50 pondok kayu penjaja ukiran tersebut, setiap tahunnya tutup satu persatu, dan sekarang ini tak bersisa sama sekali. (Fri)