Catatan Musdalifah Rachim, Wartawati Halojambi.id Saat Terkonfirmasi Positif C-19 (1)

Menjalani Isolasi di Rumah Isolasi Pasien C-19 Pemkab Tanjabbar Bersama Kawan-Kawan "Senasib"

Awal Gejala Sempat Hilang Indra Penciuman Pandemi Covid -19

Menjadi momok menakutkan selama lebih setahun terakhir ini, semua aktivitas kehidupan yang membutuhkan interaksi sosial nyaris "lumpuh" setiap orang wajib patuhi protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah guna mencegah terjadi persebaran penularan Corona di tengah masyarakat.

Setiap personal masyarakat diminta berperan aktif melindungi diri dan keluarganya dengan mengubah perilaku hidup yang berkontribusi memerangi dan mencegah penularan virus Corona dengan cara hidup bersih dan sehat serta mengikuti gerakan 5 M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Dengan standar Protokol Kesehatan tersebut diharapkan masyarakat mampu melindungi diri dan lingkungannya dari terinfeksi virus ganas yang "bermigrasi" dari negeri Cina daratan itu.

Saya pribadi tidak terkecuali menjadi anggota masyarakat yang sempat dibuat panik menghadapi pandemi C-19 diawal penyebaran di Indonesia Maret tahun lalu, saya berbulan-bulan dilanda rasa cemas, paranoid dan segala sikap negatif lainnya menyikapi kondisi ini, namun saya rajin mengikuti informasi dan arahan yang disampaikan pemerintah melalui berbagai media tentang penanganan Covid-19, dilaksanakan Tim Satgas Penanganan Covid-19 di pusat dan daerah.

Selaku jurnalis saya juga memiliki tanggungjawab sosial guna memberikan informasi kepada masyarakat terkait kasus-kasus Corona yang terus meningkat setiap harinya dengan tiada henti terjadi penularan di seluruh tingkatan masyarakat. Saya mengabaikan rasa cemas dan takut saya ketika berada di lapangan karena panggilan tugas selaku jurnalis tidak mengenal kata "awas ada Corona", sehingga saya dan rekan-rekan saya di Kabupaten Tanjungjabung Barat belum tersentuh kata gentar menghadapi pandemi C-19 walaupun telah banyak di antara rekan pers di Kota Jambi terpapar Corona, namun Alhamdulillah insan pers Tanjungjabung Barat masih aman dari terinpeksi C-19.

Tugas saya selaku jurnalis tentu harus selalu turun ke lapangan meliput kejadian yang terjadi di lingkup wilayah penugasan saya selaku insan pers, di masa pandemi pun tugas kami sebagai wartawan tak mengenal "hari libur" sehingga sangat rentan tertular virus ganas tersebut, sehingga di lapangan prokol kesehatan wajib kami patuhi.

Singkat cerita, sayapun "mendapat" giliran disapa oleh C-19, diawal April tahun ini tepatnya 2 April 2021 setelah pulang dari suatu lokasi di Desa Tungkal 1 Kecamatan Tungkal Ilir Kabupaten Tanjungjabung Barat Provinsi Jambi.Jumat pukul 10.00 Wib pagi itu memang cuaca agak panas mentari menyengat kulit, sampai di rumah saya merasa tidak "enak badan" tubuh saya panas, seperti meriang dan masuk angin, saya mengosok-ngosok minyak angin ke bagian dahi, saya merasa kepala saya mulai sakit, berdenyut-denyut, berlanjut hingga usai sholat dhuhur saya merasa demam panas .

Setelah itu saya mencoba beristirahat namun karena satu keperluan mengharuskan saya sore harinya kembali ke tempat tersebut, pukul 17.45 Wib saya tiba di rumah, saya ingin mandi namun saya merabah leher dan pundak saya terasa ada hawa panas, saya urung mandi sebagai gantinya saya mencuci kaki, tangan dan wajah saya dengan air suam-suam kuku, sedikit rasa nyaman setelah itu.

Namun esok harinya mulai seluruh tubuh saya mengalami kelesuan, susah payah saya bangkit dari tempat tidur, saya harus shalat Subuh Sabtu (3/4) saya memaksa badan saya melaksanakan wudhu, saya berpikir semoga berkah air wudhu mampu menjadi energi yang mengurangi penyakit yang saya tidak tahu apa namanya, namun saya merasakan serangannya, saya juga merasa seperti terkena gejala flu, mungkin ada virus yang mulai menyerang tubuh kecil saya, cemas dan nerves hinggap di bathin saya, pikiran saya mengirim sinyal ke jiwa saya, "dirimu terpapa Corona" bisikan itu merasuk ke jiwa saya sehingga walau usai sholat saya dihinggapi rasa cemas yang luar biasa

Namun saya terus berserah diri pada Ilahi dengan banyak berdzikir saat ujian ini datang, saya mengajak diri saya untuk kuat menghadapi ini, tidak terbayangkan sebelum setelah satu tahun lebih dicekam oleh ketakutan atas ancaman virus Corona yang ternyata saatnya diriku tak berdaya virus itu bersarang di tubuhku, menyadari ini saya tidak boleh lemah saya memberi semangat diri dengan mendukung bawah sadar mampu melawan Corona dengan sikap mental positif.

Setelah beberapa hari merasakan kondisi tubuh semakin tidak sehat, saya mulai kehilangan indra penciuman saya, saya merasa gejala flu, namun saya tidak mengalami gejala flu seperti pilek, batuk, hanya saja hidung saya tidak mengeluarkan cairan (ingus), namun ada rasa nyeri di area hidung bagian dalam, pikiran saya menjadi tidak tenang dengan gejala ini, saya mulai dihantui kecemasan bahwa Corona telah "bersarang" di tubuh saya, karena utama yang menjadi ciri-ciri terinfeksi Corona, saat penderita kehilangan penciuman, menurut salah satu artikel di media yang pernah saya baca, di saat-saat ini saya mencoba tenang.

Lalu dengan kesadaran sendiri saya menghubung dr. Nani Jubir Tim Satgas Penanganan C-19 RSUD KH Daud Arif Kualatungkal, saya direspon dr. Nani yang menghubungi pihak Puskesmas Kualatungkal 2, untuk penanganan lebih lanjut, setelah terhubung dengan pihak medis dari Puskesmas Kualatungkal 2, saya berkonsultasi soal gejala-gejala klinis yang saya alami dan disarankan menjalani pemeriksaan PCR atau swab test tiga hari

Kemudian yaitu 9 April dan hasilnya diketahui 13 April, saya telah mempersiapkan mental saya untuk hasil terburuknya, menunggu hari itu informasi dari pihak Puskesmas atas hasil tes swab saya, saya tidak sabar, saya "melewati" prosedur karena pihak medis di Puskesmas belum juga menghubungi saya pukul 08.00 Wib pagi itu untuk mendapatkan informasi yang lebih cepat, sebab pihak Puskesmas mengatakan mereka belum menerima informasi dari Dinas Kesehatan soal hasil tes PCR saya, sebab itu saya melakukan kontak langsung melalui telepon dengan Kabid P2PL Dinas Kesehatan Tanjungjabung Barat ibu Hj. Arida Santioren, berdebar-debar jantung saya menanti apa yang akan dikabarkan Hj Arida pada saya," Dari hasil pemeriksaan PCR atas nama Musdalifah hasilnya Positif, ga apa-apa jalani aja isolasi setelah ini, " ujar Kabid P2PL.

Informasi itu menjadi fakta atas dugaan saya terhadap gejala sakit yang saya alami selama berhari-hari sebelumnya, sayapun menjadi sadar saya telah terkonfirmasi terpapar Virus Corona yang menyerang banyak orang di dunia saat ini. Ketika kemudian pihak medis Puskesmas Kualatungkal 2 menghubungi saya menginformasikan kondisi saya, saya tidak lagi terkejut dan stress mendengar kabar tersebut, saya hanya berpikir untuk segera menjalani karantina dan benar esok harinya saya diminta menjalani isolasi 10 hari di gedung eks.

Puskesmas Kualatungkal 2 yang diperuntukkan bagi pasien C-19 oleh Pemkab Tanjungjabung Barat. Rabu siang pukul 13 00 Wib saya diminta datang sendiri ke lokasi isolasi dengan membawa semua perlengkapan yang dibutuhkan selama isolasi, saat mempersiapkan segala kebutuhan seperti pakaian, sikat gigi dan alat-alat perlengkapan mandi, saya berpikir diri saya akan pergi traveling ke suatu daerah wisata yang indah dan menyenangkan, saya buang jauh-jauh pikiran tentang ruang isolasi yang akan "mengurung" tubuh saya dari dunia luar. (Bersambung)