Catatan Musdalifah Rachim, Wartawati Halojambi.id Saat Terkonfirmasi Positif C-19 (episode 2)

Menjalani Isolasi di Rumah Isolasi Pasien C-19 Pemkab Tanjabbar Bersama Kawan-Kawan "Senasib" Lapor

Polres Tanjabbar Istirahat Pasien C-19 Terganggu Akibat Ulah Pelaku Balap Liar

Menjalani hari pertama di rumah isolasi pasien C-19 di gedung Eks. Puskesmas Kualatungkal 2 pada Rabu (14/4) diriku dihadapkan pada situasi baru.

Saya lalu berupaya mengajarkan diri saya segera beradaptasi, untuk membuat suasana mental dan pikiran saya dapat menerima semua kondisi yang ada. Karena betapa tidak saya harus hidup serumah dengan teman-teman yang memiliki penyakit serupa, para pasien Covid-19 yang belum pernah saya bayangkan bagaimana hidup bersama mereka yang terinfeksi virus Corona.

Walau sama dengan saya mereka semua "terlihat" sehat-sehat saja, tidak tampak sedang menderita sakit. Sebelum saya masuk di sana telah terdapat 3 orang lainnya semuanya perempuan, namun saat saya datang bersamaan dengan itu masuk pula 1 orang pria berusia 21, ( usianya saya ketahui kemudian ).

Sehingga kami berjumlah lima orang namun setelah tiga hari di sana masuk lagi lima pasien tiga dewasa (dua perempuan dan satu pria) dua lainnya pasien anak (kakak adik) usia ditingkatan lima dan sepuluh tahun, satu dari dua wanita dewasa itu adalah ibu dari anak-anak ini, dan pria dewasa yang menyertai kedatangan mereka adalah kakek dari kedua anak tersebut, dari interaksi sosial saya dengan mereka saya ketahui bahwa satu dari tiga perempuan (dewasa) yang ada di tempat isolasi ini adalah nenek dari dua anak kecil itu, sehingga lengkaplah mereka berkumpul sekeluarga sang nenek pun nampak terhibur dengan kehadiran suami, menantu dan cucu-cucunya, perempuan yang menyertai dua anak-anak ini adalah menantu kakek-nenek yang turut diisolasi di sini pula terjadi penularan di rumah mereka di awali oleh sang nenek yang dinyatakan terkonfirmasi positif C-19.Dari kontak erat sang nenek ini dengan keluarganya (cucu, menantu dan suami) kemudian mereka semua terpapar virus asal Wuhan China Daratan tersebut.

Berturut-turut setelah ini pasien-pasien berikutnya masuk semua tanpa gejala, hingga kamar-kamar yang tersedia di rumah isolasi ini penuh, namun fasilitas di setiap kamar cukup memadai ada tempat tidur ( yang memang didesain untuk orang sakit) ada AC, lemari pakaian, wastafel ( namun tidak semua kamar ada wastafel, sebelum pasie n memasuki kamarnya telah ditata dan distrilkan dengan cair disinfektan oleh petugas di rumah isolasi ini, ada tikar juga dilantai dan peralatan jemur handuk, saya pribadi berpikir seolah saya sedang "menginap" di hotel, berpikir tentang ini membuat hati saya ceria tidak murung dan bersedih sebab sedang dikarantina, namun alam imajinasi saya merayap ke ruang tanpa batas sehingga bisa menuliskan sebagian pengalaman saya ini selama menjadi pasien Covid saya tulis dengan tenang di kamar ini, saya menikmati saja hari-hari saya yang harus terkurung badan ini terkarantina di sini, namun jiwa dan pikiran saya tetap bebas lepas tanpa perlu merasa terpenjara.

Puasa hari kedua Rabu (14/4) saya mengawali keberadaan saya bersama teman-teman senasib di rumah Isolasi Pasien C-19 Eks.Puskesmas Kualatungkal 2 milik Pemkab Tanjungjabung Barat adabtasi saya berjalan baik dengan cepat saya menjalin komunikasi baik dengan para medis di tempat ini ( perawat jaga dan dokter) serta teman-teman baru saya, kami berinteraksi sosial dengan cepat saling senyum dan sapa yang lalu hari-hari kami penuh kebersamaan mendapat perhatian dan layanan yang sama terhadap fasilitas yang tersedia, di ruang tengah setelah barisan kamar-kamar yang di huni setiap individu pasien ( kecuali pasien ibu dan anak mereka menempati satu ruang kamar yang lebih besar dan luas) .

Sehingga hari-hari saya sejak Rabu (14/4) hingga sepuluh hari ke depannya saya merajutnya dengan keberadaan dan kebersamaan saya dengan teman-teman "senasib" yaitu kami semua memiliki jalur takdir yang sama di saat-saat ini menjadi orang dengan C-19 sebagai status telah terkonfirmasi positif Corona.

Namun di rumah isolasi ini kami membangun rasa kebersamaan dan persaudaraan bahkan kami tergabung dalam group WA yang kami beri nama Alumni Tim Positip C-19, walau nanti keluar tempat isolasi kami semua yang tergabung di group ini tetap membina silaturrahmi di luar sana, karena Allah telah mempertemukan kami sebagai saudara dalam kebersamaan selama 10 hari tersebut. Kamar Isolasi ini yang kutempati diberi nama "Kamar Roro" ( nama ini terinspirasi dari nama pelabuhan Roro Kualatungkal, begitupun dengan kamar lainnya di rumah isolasi ini ada yang dipintunya tertulis Mangrove, WFC, LLASP dan nama-nama lokasi lainnya yang sangat familiar bagi masyarakat Tanjungjabung Barat) .

Menginap di kamar ini membuatku mulai menemukan cimestry ruangan ini, Saya dapat beristirahat dengan tenang tanpa menghiraukan keberadaan si "Covid" yang menyerang tubuh saya, saya terus meningkatkan semangat hidup saya dengan berkomunikasi via VC maupun chatt washaff dengan keluarga terdekat saya mau sahabat serta teman-teman yang tak henti-hentinya menghibur, memberi spirit moral dan mendoakan. Kakak ipar saya Mbak Ning, Kak Elly, Bang Arif, adik saya Aris Abdullah di Jakarta yang juga terinfeksi Corona rajin menelpon saya baik melalui VC, begitupun istrinya dr. Raodah di Jambi segera mengirim vitamin, obat-obatan serta madu dan lainnya kepada saya di hari kedua diisolasi kirimannya telah tiba pada saya.

Sekuat apapun sebagai penderita Covid tetap dibutuhkan dukungan dan spirit keluarga, teman dan sahabat yang memberikan perhatian dan kasih sayangnya walau jarak jauh menjadi energi luar biasa memotivasi untuk sembuh. Malam kelima saya menginap di sini saat tengah malam saya terbangun olah raungan keras suara kendaraan sepeda motor, saya berpikir ini pasti aksi ugal-ugalan anak muda pelaku balap liar, untuk diketahui lokasi rumah isolasi pasien C-19 Tanjungjabung Barat berada di tepi jalan utama memasuki kota ini tepatnya di jalur dua menuju arah keluar kota yaitu berseberangan dengan jembatan kembar Parit Gompong Jalan Prof.Dr. Sri Soedewi MS Kualatungkal, kebisingan itu sangat mengganggu saya, mungkin juga para pasien Covid lainnya.

Lalu saya mencoba menelpon Kapolres Tanjungjabung Barat namun sayangnya telepon celuler Pak Kapolres sedang offline. Namun pesan WA yang terkirim baru direspon pukul 04.00 pagi.Esok malam kejadian serupa terulang kala itu pukul 22.30 Wib Ahad malam (18/4) tingkat kebisingan tinggi merasuk ke ruang pendengaran saya, otomatis sinyal ini membuat saya terganggu, saya tak dapat mentoleransi hal ini, sehingga saya berpikir akan kembali menghubungi Pak Kapolres, Alhamdulillah pesan WA yang saya kirim direspon baik oleh beliau dengan cepat. Kira-kira berjarak sepuluh menit setelah itu saya mengintip di sela-sela pintu besi ruang isolasi saya melihat Personal Satlantas dari Polres Tanjungjabung Barat telah berdiri di tengah jalan mengamankan situasi malam itu serta satu unit mobil operasional Satlantas telah terparkir ditepi jalan dengan lampu sirene kelap-kelip warna merah terus menyala.

Ketika saya kembali ke kamar untuk istirahat saya membuka pesan WA Pak Kapolres AKBP Guntur Saputra mengirimi saya video operasi pengamanan situasi lalu lintas malam itu dan terdapat juga beberapa photo personal kepolisian tengah berdiri di tengah jalan sama persis photo itu dengan saya saksikan sendiri melalui celah lobang pintu besi.

Saya lalu mengirim ucapan terima kasih atas gerak cepat pihak Polres Tanjungjabung Barat mengamankan lokasi ini dari aksi tak bertanggungjawab para pelaku balap liar.

Esok harinya saya bercerita pada teman-teman saya lainnya ternyata mereka juga merasa sangat terganggu suara bising sepeda motor yang dipacu dengan kecepatan tinggi itu, lalu saya juga menyampaikan kepada perawat jaga bahwa para pasien di sini terganggu tidurnya tadi malam dan saya mengatakan jika pihak Polres telah mengamankan situasi malam itu dari gangguan pelaku balap liar.

" Terima kasih Bu, selama ini para pasien memang selalu mengeluh soal suara bising motor yang kebut-kebutan malam-malam, walau kami sudah sampaikan keluhan ini keinstansi terkait," ujar perawat jaga tersebut.(bersambung)

 

 

 

<