HALOJAMBI.ID - Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada setiap individu atau  kelompok  untuk  mengubah  sikap  dari tau menjadi tau sepanjang hidupnya. Dalam proses siswa belajar dan guru mengajar dalam interaktif dan terjadi interaksi edukasi antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan dalam diri siswa, baik perubahan yang terjadi dalam diri siswa dalam  tingkat  pengetahuan dan keterampilan sikap Akan tetapi didalam dunia pendidikan guru merupakan seseorang yang memiliki  peran yang penting dalam interaksi belajar sehingga dapat tercapainya  sesuatu  keinginan  yang ingin dicapai didalam proses pembelajaran,hal tersebut tidak luput dari pasilitas atau  sarana dan prasarana yang harus mendukung didalam proses pembelajaran.

----------------------

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA INFOCUS DAN METODE  DEMONTRASI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SISWA DI

SDN NEGERI 024/VII BATU AMPAR KECAMATAN PAUH KABUPATEN SAROLANGUN JAMBI

Irwan Faisal

SDN Negeri 024/VII Batu Ampar

 Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

 
   

 

 

ABSTRAK:

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penggunaan media infocus (X1) metode demontrasi (X2) terhadap motivasi belajar PAI siswa (Y), dilaksanakan di SDN Negeri 024/VII Batu Ampar Ka.sarolangun jambi dengan n = 23 diambil secara acak dengan populasi 173 siswa pengambilan sampel kelas VI dengan metode kuantitatif menggunakan penelitian eksperimen dan kelas control sebagai perbandingan. Intrumen yang digunakan adalah penggunaan infocus, penggunaan metode demontrasi dan motivasi belajar siswa. Validitas dihitung dengan uji t, untuk pengaruh kedua komponen menggunakan Paired – Sampel T Test (Uji T Sampel Berpasangan). Dari hasil Penelitian menemukan: (1) terdapat pengaruh yang positif penggunaan infocus (X1) terhadap motivasi belajar PAI siswa (Y) dengan sig 0,025 lebih kecil dari 0,05 maka terdapat pengaruh positif penggunaan media infocus (X1) terhadap motivasi belajar PAI siswa (Y); (2) terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan metode demontrasi (X1) terhadap motivasi belajar siswa T-test dengan sig 0,462 lebih besar dari pada 0,05; (3) terdapat hubungan positif penggunaan media infocus dan metode demontrasi terhadap motivasi belajar PAI siswa T-test Friedman test sig 0,000 lebih kecil dari sig 0,05. Berdasarkan temuan tersebut penelitian menyimpulkan bahwa penggunaan media infocus metode demontrasi dapat menimbulkan variasi dalam belajar, menghilangkan kejenuhan belajar,membuat suatu kreasi yang dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar PAI,menghilangkan sikap monoton dalam suasana belajar, yang melibatkan langsung siswa dalam proses pembelelajaran sehingga dapat menimbulkan rangsangan kepada siswa untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa terkhusus SDN Negeri 024/VII Batu Ampar sehingga harapan tercapainya tujuan pembelajaran PAI dapat dilaksanakan secara sempurna yaitu menciptakan karakteristik yang religius. Dalam penciptaan suasana belajar yang menyenangkan alat bantu guru dalam penyampaian informasi kepada siswa sangatlah diharapkan untuk mencapai apa yang diinginkan di dalam proses pembelajaran PAI.

Kata kunci: Media Infocus, Metode Demontrasi, Motivasi Belajar

 

PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada setiap individu

atau  kelompok  untuk  mengubah  sikap  dari tau menjadi tau sepanjang hidupnya. Dalam proses siswa belajar dan guru mengajar dalam interaktif dan terjadi interaksi edukasi antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan dalam diri siswa, baik perubahan yang terjadi dalam diri siswa dalam  tingkat  pengetahuan dan keterampilan sikap1

Akan tetapi didalam dunia pendidikan guru merupakan seseorang yang memiliki  peran yang penting dalam interaksi belajar sehingga dapat tercapainya  sesuatu  keinginan  yang ingin dicapai didalam proses pembelajaran,hal tersebut tidak luput dari pasilitas atau  sarana dan prasarana yang harus mendukung didalam proses pembelajaran.

 

Sehingga didalam proses pembelajaran pendidikan agama islam yang menjadi tujuan dari pembelajaran PAI akan tercapai dengan sempurna. Itu semua akan dapat tercapai apabila adanya kerjasama antara guru PAI dengan lingkungan sekitar sekolah meliputi orang- orang yang ada disekolah (guru dan siswa serta orang yang telibat langsung didalam lingkungan sekolah), sarana dan prasarana sekolah yang memadai dan faktor pendukung lainnya.

Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya sebagai pengajar yang transfer of know legre tapi juga sebagai pendidik yang transfer of values yang mampu mengarahkan siswa didiknya kearah sikap dan prilaku yang baik dalam kaca mata masyarakat sekitarnya.

Sehingga keberhasilan siswa tersebut dituntut peran serta guru PAI untuk aktif didalam proses pembelajaran sehingga mampu merespon siswa agar menimbulkan motivasi didalam belajar dengan demikian tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik seperti harapan kita semua.

Salah satu faktor yang membantu  guru dalam  pembelajaran  adalah  media   infocus dan metode demontrasi.Dari kedua alat bantu tersebut diharapkan guru dapat menciptakan proses pembelajaran yang menarik dan tidak monoton sehingga ada ketertarikan siswa didalam pembelajaran PAI khusus materi akhlak yang dapat dilihat keberhasilan tersebut tidak hanya lisan pengetahuan tapi juga sikap dan perilaku hari-hari yang menjadi kunci tercapainya tujuan pembelajaran.

Dalam memotivasi siswa secara sikap dan perilaku perlu adanya contoh-contoh yang kongrid dalam bentuk gambar maupun  film serta anak langsung dapat menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari dikarenakan anak bukan saja siswa tapi anggota masyarakat di lingkungannya masing-masing. Melalui kreativitas guru PAI menggunakan media infocus maka siswa dapat belajar dengan kondisi menyenangkan.

Dari kondisi menyenangkan diatas,harapan- harapan yang menjadi tujuan pembelajaran dapat diaplikasikan melalui sikap dan tingkah laku siswa didalam lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal siswa tersebut.

Disamping penerapan  media  infocus  guru PAI  juga  mampu  memiliki  metode  dalam proses pembelajaran yang dapat menumbuhkan motivasi belajar yang menarik dan menyenangkan sehingga menimbukan suasana belajar yang kondusif dan efesien,sehingga terciptalah suatu keinginan yang ingin dicapai.

Ketepatan seorang guru dalam memilih metode pengajaran yang efektif akan dapat menghasilkan tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Sebaiknya seorang guru dalam memilih metode pengajaran tidak sesuai dengan materi yang akan disampaikan maka tujuan pembelajaran yang efektif tersebut tidak akan tercapai. Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Sukardi bahwa, proses pembelajaran yang tidak tercapai sasaran, dapat dikatakan sebagai pembeljaran yang tidak efektif.2

Kurangnya pengembangan dan pemanfaatan metode dan media pembelajaran dipandang sebagai penyebab kurangnya motivasi dan keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, namun yang terjadi didalam lingkungan dunia pendidikan yaitu cara-cara tradisional, yaitu guru menyampaikan pelajaran, siswa mendengarkan atau mencatat dengan system evaluasi yang mengutamakan pengukuran kemampuan menjawab pertanyaan hafalan atau kemampuan verbal lainnya, untuk itu seharusnya proses pembelajaran lebih diarahkan pada proses keaktifan siswa agar mereka memahami apa yang kelak akan dilaksankan. Harapan dengan itulah

 

 

 

                                                                                                                                                                                                                                      

 

1 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara, 2011), h.48

2 Sukardi, Guru Powerfull Guru Masa Depan, (Bandung Kolbu, 2010),h.10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

peran penting media dan metode pembelajaran yang digunakan dapat menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga menimbulkan motivasi belajar siswa yang kita harapkan.

Salah satu metode yang dapat dipakai dalam proses pembelajaran adalah Penerapan metode demontrasi dimana anak akan dilibatkan dalam proses pembelajaran PAI sehingga ada motivasi belajar anak yang nantinya diterapkan dalam keseharian anak tersebut. Dalam penggunaan media dan metode demontrasi anak dituntut untuk mempunyai ketertarikan terhadap materi tersebut.

Dalam menciptakan ketertarikan anak-anak didik tersebut tidak luput peranserta sekolah untuk mengkondisikan sarana dan prasarana sekolah yang mendukung dalam proses pembelajaran PAI.

Sehingga memudahkan akan mengingat pembelajaran tersebut dan mampu mem- peraktekkannya didalam kehidupan  dimana anak merupakan generasi penerus yang dapat membawah nama baik keluarga, sekolah dan masyarakat tempat tinggal si anak.

 

RUMUSAN MASALAH

  1. Apakah terdapat pengaruh penggunaan media pembelajaran infocus terhadap motivasi belajar PAI siswa SDN Negeri 024/VII Batu Ampar?
  2. Apakah terdapat pengaruh metode demontrasi terhadap motivasi belajar PAI siswa SDN Negeri 024/VII Batu Ampar sarolangun jambi?
  3. Apakah terdapat pengaruh antara media infocus dan metode demontarsi terhadap motivasi belajar PAI siswa SDN Negeri 024/VII Batu Ampar kab.sarolangun jambi?

 

TUJUAN PENELITIAN

  1. Untuk mengetahui peran media infocus dalam meningkatkan motivasi belajar PAI siswa SDN Negeri 024/VII Batu Ampar Kab.sarolangun jambi
  2. Untuk mengetahui peran metode demontrasi motivasi belajar PAI siswa SDN Negeri 024/VII Batu Ampar Kab.sarolangun jambi
  3. Untuk mengetahui pengaruh media infocus dan metode demontrasi terhadap motivasi belajar PAI siswa SDN Negeri 024/VII Batu Ampar kab.sarolangun jambi

 

LANDASAN TEORI

  1. Media Pembelajaran Infocus

Infocus atau LCD Proyektor digunakan sebagai perangkat keras (hardware) yang sama fungsinya dengan monitor yang dapat mem- proyeksikan gambar dimonitor ke dinding atau layar (sceen) sehingga ukurannya menjadi lebih besar. Infocus sering digunakan untuk presentasi, seminar, pembelajaran disekolah maupun dikampus,bahkan dapat digunakan sarana menonton bersama karena ukuran gambarnya bisa diperbesar.

Infocus sebagai media pembelajaran yang digunakan pada sekolah menengah pertama (SMP) dimana yang mempunyai tujuan pengenalan media Infocus dengan materi-materi PAI terkhusus materi akhlak yaitu akhlak tidak terpuji liputi sikap dendam dan munafik yang dapat dicontohkan melalui film dan penjelasan.

Di SDN024/VII Batu Ampar  media Infocus digunakan oleh guru PAI yang menyampaikan materi sikap tidak terpuji dalam indikator dendam dan munafik. Adapun cara penyampaian pesan atau informasi melalui media Infocus yaitu dengan penjelasan, gambar dan film guna memotivasi siswa agar mampu menerapkan apa yang didengar,dilihat dan harapan kedepannya mampu menerapkan kedalam kesehariannya. Hal ini sesuai dengan kiat belajar Dr.Vernon A.Magnesen: 10% dari yang kita baca, 20% dari yang kita dengar, 30% dari yang kita lihat, 50% dari yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakana,90% dari yang kita katakana dan kita lakukan3.Dimana dalam teori tersebut dapat didiskripsikan bahwa dengan media Infocus digunakan dilingkungan sekolah siswa dapat menyerap pelajaran 50% dari siswa hanya mendengar.

Dimana harapan penulis dengan siswa melihat langsung melalui media infocus materi akhlak dengan contoh film perilaku dendam dan munafik diharapkan hasil yang diamati mampu mepengaruhi sikap dan perbuatan siswa sehari- hari. Karena dengan adanya contoh-contoh yang disaksikan siswa secara langsung melalui media Infocus harapan guru PAI tentang pembelajaran materi akhlak tersebut dapat tercapai minimal 50%.

Media pembelajaran Infocus yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. Berdasarkan defenisi tersebut, maka media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa mempelajari materi pembelajaran.Media Infocus ini dapat digunakan untuk menarik motivasi siswa didalam belajar terkhusus pelajaran PAI materi akhlak tidak terpuji yang diharapkan berdampak kedalam sikap prilaku siswa hari-hari sesuai dengan tujuan pembelajaran PAI mengharapkan perubahan secara menyeluruh terhadap sikap dan perilaku siswa disamping pengetahuan secara umum.

Dengan penggunaan media pembelajaran Infocus fungsi media pembelajaran didalam proses pembelajaran PAI dapat berfungsi sebagai cultural of power dalam perkembanga siswa yang berkarakter religius sehingga membentuk pola piker dan pola prilaku siswa.

 

 

2.  Metode Demontrasi

Untuk melaksanakan metode demonstrasi yang baik atau efektif,ada beberapa langkah yang harus dipahami dan digunakan oleh guru,yang terdiri dari perncanaan, uji coba dan pelaksanaan oleh guru lalu diikuti oleh siswa dan diakhiri dengan adanya evaluasi4.

Adapun langka-langka dalam mengaplikasikan metode demontrasi adalah sebagai berikut:

  1. Merumuskan dengan jelas kecakapan dan keterampilan diharapkan dicapai oleh siswa sesudah demontrasi itu
  2. Mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, apakah metode itu wajar digunakan dan apakah ia merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran
  3. Alat-alat yang diperlukan untuk demontrasi itu bisa didapat dengan mudah, dan sudah dicoba terlebih dahulu supaya waktu diadakan demontrasi tidak gagal
  4. Jumlah siswa untuk mengadakan demontrasi jelas

 

  1. Menetapkan langkah-langkah demontrasi yang akan dilaksanakan, sebaiknya sebaiknya sebelum dilakukan demontrasi,sudah dicoba terlebih dahulu supaya tidak gagal pada
  2. Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan, apakah tersedia waktu untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan komentar selama dan sesudah
  3. Selama demontrasiberlangsung,hal-hal yang harus diperhatikan:
    • Keterangan-keterangan dapat didengar dengan jelas oleh
    • Telah disarankan kepada siswa untuk membuat catatan-catatan
  4. Menetapkan rencana untuk menilai kemajuan Sering diadakan diskusi sesudah demontrasi berlangsung atau siswa mencoba melakukan demontrasi5.

Dari langkah-langkah metode demontrasi tersebut jelas bahwa dalam melaksanakan metode demontrasi dalam proses pembelajaran mem- butuhkan waktu dan kesiapan guru PAI guna menyampaikan materi yang akan disampaikan secara efektif dan efesien. Karena kalau terjadi ketidak siapan dalam menggunakan metode tersebut akan menjadi sesuatu yang mengacaukan didalam belajar sebab dalam metode ini siswa dituntun peran aktif bahkan ikut dalam demontrasi yang nantinya akan menghasilkan kesimpulan dari sebuah evaluasi atau diskusi langsung.

3 Bobbi DePoter,dkk, Quantum Teaching, (Bandung: PT Mizan ustaka), h.57

 

Analisi penulis bahwa penggunaan metode demontrasi pada pelajar PAI materi ahklak dapat dilakukan dengan perencanaan yang matang karena melibatkan siswa secara langsung dan apabila tidak direncanakan akan menghabiskan waktu belajar dengan sia-sia.dampaknya tidak tercapainya hasil belajar yang diinginkan.Akan tetapi akan menjadi sesuatu yang bermanfaat apabila guru PAI dapat mengkondisikan waktu dengan persiapan yang akan dilakukan guru dengan menggunakan metode demontrasi sehingga menimbulkan motivasi yang tinggi dalam diri siswa harapannya dapat menimbulkan keinginan untuk mempraktekkannya dalam kehidupan hari-hari siswa tersebut.

 

3.  Hakikat Motivasi Belajar

Motivasi sangatlah penting bagi setiap orang. Karena motivasi merupakan dorongan atau penggerak bagian untuk melakukan pekerjaan. Termasuk motivasi siswa didalam belajar PAI dimana motivasi memegang peran penting didalam proses pembelajaran.

Motivasi belajar didalam diri siswa atau peserta didik sangat diperlukan guna untuk mengembangkan diri dari siswa untuk me- ngetahui apakah proses pembelajaran PAI didalam kegiatan pembelajaran telah berhasil atau sebaliknya.

Motivasi memang tidak dapat diobservasi secara langsung, akan tetapi dapat diduga atau dilihat dari perilaku seseorang,menanyakan apa yang diinginkan,meminta keterangan mengapa mereka melakukan perbuatan tersebut.

Menduga motif dari perilaku yang dilakukan siswa pada kegiatan hari-hari memang tidaklah mudah maka penulis mencoba menglihat pada kegiatan harian siswa disekolah seperti apakah mereka mampu berteman dengan baik,bagaimana mereka menjaga pertemannya,adakah siswa tersebut tertib dalam melakukan pekerjaan yang diberikan kepadanya,tanggungjawabkah siswa terhadap apa yang diberikan kepadanya.

Dari penjelasan diatas maka dapat di- deskripsikan bahwa motivasi merupakan motivasi merupakan suatu dorongan terhadap diri anak untuk melakukan suatu pekerjaan. Motivasi, baik yang timbul dari dalam maupun yang datang dari luar merupakan penggerak untuk berbuat dan bertindak. Orang yang akan melakukan sesuatu karena adanya dorongan yang mendorong seseorang untuk berbuat. Dorongan itu bisa berupa kebutuhan fikik, harga diri, keamanan, ataupun keinginan untuk berprestasi.

Sedangkan masih banyak orang yang merancuhkan pengertian istilah “Pendidikan Agama Islam” dan Pendidikan Islam “ kedua istilah ini diungkap sama, sehingga ketika seseorang berbicara tentang pendidikan islam ternyata isinya terbatas pada pendidikan agama islam, atau sebaliknya ketika orang membahas masalah pendidikan agama islam maka yang diungkap justru pendidikan islam. Pada hal kedua subtansi tersebut memiliki perbedaan.

Tafsir (2004) membedakan antara pendididkan agama islam dengan pendidikan islam. PAI dibakukan sebagai pelajaran seharusnya di- namakan “Agama Islam” karena diajarkan adalah agama islam bukan pendidikan agama islam. Nama kegiatan atau usaha-usaha dalam pendidikan agama islam disebut sebagai pendidikan agama  islam.  Kata  “Pendidikan” ini seharusnya ada pada dan mengikuti setiap mata pelajaran.

Adapun pengertian pendidikan agama islam di sekolah, adalah salah satu bidang stusi dilembaga pendidikan umum, khususnya di sekolah dasar negeri (SDN) yang sekarang mengelolah  dan  mengawasanya  dilakukan oleh Departemen Agama Republik Indonesia. Maka demikian bahwa pendidikan agama islan merupakan sistem yang menjadi salah satu bidang studi dilembaga pendidikan umum yang merupakan subsitem dari pendidikan nasional.

Dari berbagai pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan agama islam merupakan pendidikan yang diselenggarakan atau didirikan dengan niat untuk menjalankan ajaran islam dan nilai-nilai islam dalam pendidikan. Dan tujuan pendidikan agama islam ini diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman,pengayatan dan pengamalan ajaran agama islam dari peserta didik, disamping membentuk kesalehan sosial dalam arti yang luas, kwalitas kesalehan itu diharapakan mampu memancar keluar dalam hubungan keseharian anak dengan manusia lainnya,

 bermasyarakat,be ragama,berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan nasional (ukhwah wathoniyah).

Dari pengertian pendidikan agama islam diatas dapat diambil kesimpulan bahwa me- nimbulkan motivasi dalam belajar pendidikan agama islam merupakan hal yang wajib untuk menciptakan karakter anak didik sehingga apa yang menjadi tujuan dari pendidikan agama islam dapat tercapai.

Menurut analisis penulis motivasi belajar siswa sangatlah penting hal ini merupakan kunci suatu keberhasilan didalam proses pembelajaran terutama pelajaran PAI, karena dari motivasi belajar siswalah suatu keberhasilan pelajaran PAI dapat dilihat. Akan tetapi motivasi belajar siswa tidak dapat timbul tanpa bantuan dari semua pihak yang ada disekolah.Siswa dapat menumbuhkan motivasi belajar PAI apabila adanya dorongan dari guru melalui proses pembelajaran yang dibantu oleh media  dan metode yang benar.

Motivasi siswa dalam pelajaran PAI dapat dilihat dari akhlak yang dilakukan siswa pada kesehariannya terutama dalam lingkungan sekolah dimana siswa yang akhlak yang baik mampu menerapkan apa yang dipelajarinya seperti akhlak yang baik adab makan dan minum,bagaimana makan minum  yang  baik dan benar berdasarkan teori yang diajurkan dalam islam,berdoa sebelum makan,mengunakan tangan kanan dan duduk, tidak berberbicara apabila sedang makan,menikmati makanan yang disenangi dan sebagainya,untuk akhlak yang tidak baik siswa mampu menghindari sikap tidak terpuji seperti sikap dendam baik dengan sesama teman atau dengan orang yang ada disekitar lingkungan sekolah.

Dari berbagai uraian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa, bahwa motivasi belajar PAI siswa dapat diukur melalui dorongan yang dilakukan oleh guru melalui sikap dan perilaku yang dilakukan siswa didalam lingkungan sekolah, yang dpat dilihat dari hal-hal yang dilakukan didalam lingkungan sekolah seperti adab makan dan minum menggunakan tangan kanan, duduk, tidak membuang sampah sembarangan dilingkungan sekolah dan hal –hal lain yang sering dilakukan siswa. ini merupakan titik tolak keberhasilan pembelajaran PAI tentang materi akhlak terpuji dan tidak terpuji didalam proses pembelajaran PAI yang menggunakan media Infocus dan metode demontrasi.

Pendapat penulis motivasi belajar siswa akan timbul apabila adanya proses yang menyenangkan dalam pembelajaran sehingga adanya keinginan untuk mengulang hasil belajar dan cerminan sikap dan perilaku siswa didalam lingkungan sekolah secara sengaja maupun tidak sengaja yang merupakan tolak ukur dari keberhasilan pembelajaran PAI secara menyeluruh.

 

INDIKATOR­INDIKATOR MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA

Dari teori dan konsep yang telah dikemukan, indikatornya adalah sebagai berikut:

  • Mempunyai nilai Pendidikan Agama Islam dengan baik
  • Mampu menerapkan praktek sikap perilaku terpuji dengan baik
  • Dapat menghindari perilaku tidak terpuji dari sikap dan perilaku
  • Taat dan patuh terhadap tata tertib sekolah
  • Hormat dan sayang kepada teman sebaya
  • Mengikuti pelajar disekolah dengan penuh tanggung jawab
  • Selalu mendengar dan mengikuti nasehat guru disekolah

Dari indikator-indikator diatas dapat di- kembangkan menjadi intrumen sebagai alat pengumpul data.

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh penggunaan yang lain dalam kondisi yang terkendalikan, ini digunakan untuk menggambarkan ada tidaknya pengaruh penggunaan media infocus dan metode demontrasi terhadap motivasi belajar PAI siswa. Karena metode eksperimen ini adalah bagian dari metode kuantitatif, yang mempunyai ciri khas tersendiri, terutama dengan adanya kelompok kontrolnya.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian Observasi

Dalam penelitian ini peneliti melakukan 8 x pertemuan untuk mengobservasi kegiatan belajar siswa, baik yang menggunakan media infocus maupun    mengunakan    metode     demontrasi dan sebaliknya ada kelas control yang tidak menggunakan media infocus maupun metode demontrasi, sebelum penelitian dimulai peneliti melakukan observasi awal untuk melihat keadaan kelas yang akan diteliti bagaimana belajar dan sikap siswa hari-hari.

Dengan demikian untuk mengetahui pengaruh kedua alat bant ( media dan metode) terhadap motivasi belajar PAI siswa didalam kelas kontrol maupun kelas eksperimen, penelitian melakukan 8 x pertemuan, untuk mengetahui bagaimana keadaan motivasi siswa setelah menggunakan pembaharuan dalam kegiatan belajar mengajar

untuk mengetahui motivasi belajar siswa ketika guru menggunakan media infocus dan metode demontrasi dalam kelas eksperimen dan sebaliknya tidak menggunakan alat bantu baik itu media infocus maupun metode demontrasi.

Penelitian ini meliputi dua variabel bebas sebagai input yaitu penggunaan media infocus (X1) dan penggunaan metode demontrasi (X2) dan satu variabel terikat atau output,yaitu motivasi belajar siswa (Y). Skor masing-masing variabel ini dideskripsikan dalam rata-rata,range,nilai maksimal dan minimal,distribusi frekuensi dan higrogram seperti penjelasan berikut:

 

  1. Penggunaan Media Infocus

Rentang teoritis variabel penggunaan media infocus memiliki skor 0 s/d 60.Dari penelitian tersebut diketahui bahwa nilai range 8,50, penggunaan infocus maksimum 49,50, penggunaan infocus minimum 41,00, mean 46,3226 dan standar deviasi 1,90416.6

Adapun sebaran data variabel penggunaan infocus (X1)  ini  dapat  dilihat  digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi.Berikut ini adalah table distribusi frekuensi dari variabel penggunaan infocus (X1):

 

Tabel. 1 Distribusi Frekuensi Skor Penggunaan Media Infocus( X1).

 

Motivasi

Valid

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

41

1

3.2

3.2

3.2

43

2

6.5

6.5

9.7

44

2

6.5

6.5

16.1

44.5

1

3.2

3.2

19.4

45

1

3.2

3.2

22.6

45.5

2

6.5

6.5

29.0

46

1

3.2

3.2

32.3

46.5

8

25.8

25.8

58.1

47

5

16.1

16.1

74.2

47.5

1

3.2

3.2

77.4

48

2

6.5

6.5

83.9

48.5

3

9.7

9.7

93.5

49

1

3.2

3.2

96.8

49.5

1

3.2

3.2

100.0

Total

31

100.0

100.0

 

 
   

 

6 Perhitungan dapat dilihat pada lampiran,h. 78

 

Data ini disajikan dalam bentuk histogram, maka akan terlihat seperti pada gambar berikut:

 
   

 

 

                             Gambar 1. Histogram Penggunaan Media Infocus (X1).

Dari sebaran data penggunaan media Infocus seperti yang terlihat dalam distribusi frekuensi, ternyata data kuantitatif menunjukan mean 46,32 dengan persentase tertinggi 25,8.

 

  1. Metode Demontrasi

Data variabel metode demontrasi (X2), secara teoritis mempunyai rentangan skor antara 0 sampai dengan 60, Rentang teoritis variabel penggunaan metode demontrasi memiliki skor

0 s/d 60. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa nilai range 6,50, penggunaan metode demontrasi maksimum 49,50, penggunaan metode demontrasi minimum 40,00, mean 43,3906 dan standar deviasi 1,81274.7

Adapun sebaran data variabel penggunaan metode demontrasi (X2) ini dapat dilihat digambarkan dalam bentuk distribusi frekuensi. Berikut ini adalah table distribusi frekuensi dari variabel penggunaan metode demontrasi (X2):

 

Tabel 11. Distribusi frekuensi skor metode demontrasi (X2)

 

 

Motivasi

 

Valid

 

Frequency

 

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

40

1

3.1

3.1

3.1

40.5

2

6.2

6.2

9.4

41

2

6.2

6.2

15.6


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
   


7 Perhitungan dapat dilihat pada lampiran h.79

 

41.5

1

3.1

3.1

18.8

42

2

6.2

6.2

25.0

42.5

4

12.5

12.5

37.5

43

4

12.5

12.5

50.0

43.5

1

3.1

3.1

53.1

44

6

18.8

18.8

71.9

44.5

2

6.2

6.2

78.1

45.5

3

9.4

9.4

87.5

46

2

6.2

6.2

93.8

46.5

2

6.2

6.2

100.0

Total

32

100.0

100.0

 

 

Data ini disajikan dalam bentuk histogram, maka akan terlihat seperti pada gambar berikut:

 
   

 

 

Gambar 2. Histogram Penggunaan Metode Demontrasi (X2).

 

Dari sebaran data penggunaan metode demontrasi seperti yang terlihat dalam distribusi frekuensi, ternyata data kuantitatif menunjukan mean 43,39 dengan persentase tertinggi 18,8

 

  1. Motivasi belajar siswa

Data variabel motivasi belajar siswa (Y), secara teoritis mempunyai rentangan skor antara 0 sampai dengan 60, Rentang teoritis variabel penggunaan metode demontrasi memiliki skor 0 s/d 60. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa nilai range 6,75, Motivasi belajar siswa maksimum 47,50, motivasi belajar siswa minimum 40,75,mean 44,8145 dan standar deviasi 1,971.8 Adapun sebaran data variabel motivasi belajar

siswa (Y) ini dapat dilihat digambarkan dalam bentuk  distribusi  frekuensi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8 Perhitungan dapat dilihat pada lampiran h.80

 

 

Berikut  ini  adalah table distribusi frekuensi dari variabel motivasi belajar siswa (Y)

Tabel 12. Distribusi frekuensi skor motivasi belajar siswa (Y)

 

Responden

Valid

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

1

1

3.2

3.2

3.2

2

1

3.2

3.2

6.5

3

1

3.2

3.2

9.7

4

1

3.2

3.2

12.9

5

1

3.2

3.2

16.1

6

1

3.2

3.2

19.4

7

1

3.2

3.2

22.6

8

1

3.2

3.2

25.8

9

1

3.2

3.2

29.0

10

1

3.2

3.2

32.3

11

1

3.2

3.2

35.5

12

1

3.2

3.2

38.7

13

1

3.2

3.2

41.9

14

1

3.2

3.2

45.2

15

1

3.2

3.2

48.4

16

1

3.2

3.2

51.6

17

1

3.2

3.2

54.8

18

1

3.2

3.2

58.1

19

1

3.2

3.2

61.3

20

1

3.2

3.2

64.5

21

1

3.2

3.2

67.7

22

1

3.2

3.2

71.0

23

1

3.2

3.2

74.2

24

1

3.2

3.2

77.4

25

1

3.2

3.2

80.6

26

1

3.2

3.2

83.9

27

1

3.2

3.2

87.1

28

1

3.2

3.2

90.3

29

1

3.2

3.2

93.5

30

1

3.2

3.2

96.8

31

1

3.2

3.2

100.0

Total

31

100.0

100.0

 

 

Data ini disajikan dalam bentuk histogram, maka akan terlihat seperti pada gambar berikut:

 

Gambar 3. Histogram Motivasi Belajar Siswa (Y).

Dari sebaran data motivasi belajar siswa seperti yang terlihat dalam distribusi frekuensi, ternyata data kuantitatif menunjukan mean 16 dengan persentase tertinggi 3,2.

2.  Pengujian Hipotesis

Ada tiga hubungan yang dipelajari, yaitu hubungan antara Y dan X1,  antara    Y  dan  X2 dan Y dengan X1 dan X2 bersama-sama,  baik untuk paired-samples t test ( uji t sampel berpasangan).  Untuk  mengetahui  pengaruh antara X1 dan Y,X2 dan Y serta pengaruh kedua variabel X1,X2 dan Y dengan kata lain melihat pengaruh antar variabel.

 
 

29

1

44.0000

.

.

.

.

44.00

44.00

29.5

1

48.0000

.

.

.

.

48.00

48.00

30

1

46.5000

.

.

.

.

46.50

46.50

30.5

3

45.8333

.57735

.33333

44.3991

47.2676

45.50

46.50

31

3

46.5000

.50000

.28868

45.2579

47.7421

46.00

47.00

31.5

7

46.6429

1.49204

.56394

45.2629

48.0228

44.00

49.00

32

2

47.5000

.70711

.50000

41.1469

53.8531

47.00

48.00

33.5

1

48.5000

.

.

.

.

48.50

48.50

34

1

47.0000

.

.

.

.

47.00

47.00

36

1

47.0000

.

.

.

.

47.00

47.00

Total

31

46.3226

1.90416

.34200

45.6241

47.0210

41.00

49.50

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada tabel descriptive di atas Nampak bahwa responden yang memilih menggunakan infocus sebagai media belajar 46,6429 sebanyak 7 orang siswa, 45,83333 sebanyak 3 orang, 46,5000

 

 

  1. Pengujian Hipotesis mengenai Pengaruh Media

Infocus (X1) Terhadap Motivasi belajar Siswa.

 

Dalam penelitian ini, hipotesis pertama yang diuji terdapat pengaruh penggunaan media infocus (X1) terhadap motivasi belajar siswa (Y). Setelah diperoleh hasil dari uji t sampel berpasangan, untuk melakukan pengujian hipotesis bisa dilakukan dengan menggunakan prosedur uji selisih rata-rata dengan menggunakan prosedur anova.

1.Pengujian Hipotesis mengenai Pengaruh Penggunaan Media Infocus (X1) dengan Motivasi Belajar Siswa

Dalam penelitian ini, hipotesis pertama yang diuji adalah terdapat pengaruh yang positif antara penggunaan media infocus (X1) dengan motivasi belajar siswa (Y). Yang dapat dilihat dari perhitungan dengan spss berikut ini melalui perhitungan secara anova dibawah ini

Tabel 2. ANOVA sebagai berikut:

 
 

Descriptives

Infocus

 

 

 

N

 

 

Mean

 

 

Std.

Deviation

 

 

Std. Error

95% Confidence Interval for Mean

 

 

Minimum

 

 

Maximum

Lower Bound

Upper Bound

22

1

41.0000

.

.

.

.

41.00

41.00

24.5

1

44.5000

.

.

.

.

44.50

44.50

25

2

47.2500

3.18198

2.25000

18.6610

75.8390

45.00

49.50

26.5

1

46.5000

.

.

.

.

46.50

46.50

27.5

1

47.0000

.

.

.

.

47.00

47.00

28

2

43.0000

.00000

.00000

43.0000

43.0000

43.00

43.00

28.5

2

48.5000

.00000

.00000

48.5000

48.5000

48.50

48.50

 

 


sebanyak 2 orang, 48,5000 sebanyak 2, dan 43,000 sebanyak 2 yang lainnya memiliki rata satu orang siswa.

 

 

Gambar 3. Grafik rata-rata motivasi siswa belajar menggunakan media infocus Means Plots

 

 

Ho: Rata-rata Motivasi Belajar Siswa Menggunakan Media Infocus = Motivasi Belajar Siswa Tidak Menggunakan Media Infocus.

Ha : Rata-rata Motivasi Belajar Siswa Menggunakan Media Infocus > Motivasi Belajar Siswa Tidak Menggunakan Media Infocus.

  1. Statistik uji: uji t = 0,05
  2. Daerah kritis: Ho ditolak jika Sig <
  3. Dari hasilmpengelolahan dengan SPSS diperoleh sign = 0,025
  4. Karena Sign < (0,000 < 0,05 ), maka Ho ditolak

Kesimpulan: karena Ho ditolak sehingga yang

 

didapatkan adalah perbedaan yang positif rata- rata motivasi siswa belajar meningkat dengan penggunaan media infocus.

 

2.  Pengujian Hipotesis mengenai Pengaruh Penggunaan Metode Demontrasi (X2) dengan Motivasi Belajar Siswa

Dalam penelitian ini,  hipotesis  pertama yang diuji adalah terdapat pengaruh  yang positif antara penggunaan metode demontrasi (X2) dengan motivasi belajar siswa (Y). Yang dapat dilihat dari perhitungan dengan spss berikut ini melalui perhitungan secara anova dibawah ini:

 

Descriptives

Demontrasi

 

 

 

N

 

 

Mean

 

 

Std.

Deviation

 

 

Std. Error

95% Confidence Interval   for Mean

 

 

Minimum

 

 

Maximum

Lower Bound

Upper Bound

22

1

40.5000

.

.

.

.

40.50

40.50

24.5

1

42.5000

.

.

.

.

42.50

42.50

25

2

41.7500

1.06066

.75000

32.2203

51.2797

41.00

42.50

26.5

1

45.5000

.

.

.

.

45.50

45.50

27.5

1

42.0000

.

.

.

.

42.00

42.00

28

2

42.5000

.70711

.50000

36.1469

48.8531

42.00

43.00

28.5

2

42.0000

.70711

.50000

35.6469

48.3531

41.50

42.50

29

1

43.0000

.

.

.

.

43.00

43.00

29.5

1

46.0000

.

.

.

.

46.00

46.00

30

1

43.5000

.

.

.

.

43.50

43.50

30.5

3

44.3333

2.92973

1.69148

37.0555

51.6112

41.00

46.50

31

3

44.1667

.28868

.16667

43.4496

44.8838

44.00

44.50

31.5

7

42.8571

1.97303

.74574

41.0324

44.6819

40.00

45.50

32

2

44.2500

.35355

.25000

41.0734

47.4266

44.00

44.50

33.5

1

46.5000

.

.

.

.

46.50

46.50

34

1

44.0000

.

.

.

.

44.00

44.00

36

1

42.5000

.

.

.

.

42.50

42.50

Total

31

43.3065

1.77800

.31934

42.6543

43.9586

40.00

46.50

 

Pada tabel descriptive di atas Nampak bahwa responden yang memilih menggunakan metode demontrasi sebagai media belajar 42,8571 sebanyak 7 orang siswa, 45,83333 sebanyak 3 orang, 44,3333 sebanyak 3 orang, 44,1667 sebanyak 2, dan 44,2500 sebanyak 2,42,5000 sebanyak 2 orang yang lainnya memiliki rata satu orang siswa.

 

Gambar 4. Grafik rata-rata motivasi siswa belajar menggunakan metode demontrasi

 

 

 
   

 

 

 

Ho: Rata-rata Motivasi Belajar Siswa Mengguna- kan Metode demontrasi memiliki perbedaan yang signifikan dengan Motivasi Belajar Siswa Tidak Menggunakan Metode demontrasi.

Ha : Rata-rata Motivasi Belajar Siswa Menggunakan Metode demontrasi tidak terdapat perbedaan yang signifikan Motivasi Belajar Siswa Tidak Menggunakan Metode demontrasi.

  1. Statistik uji: uji t 2. = 0,05
  2. Daerah kritis: Ho diterima jika Sig >
  3. Dari hasil pengelolahan dengan SPSS diperoleh sign = 0,462
  4. Karena Sign > ( 0,462      0,05 ), maka Ho diterima

Kesimpulan: karena Ho diterima sehingga yang  didapatkan  adalah  perbedaan  yang secara signifikan rata-rata motivasi  siswa belajar meningkat dengan penggunaan metode demontrasi.

 

 

 

 

3. Pengaruh Penggunaan Media Infocus (X1) dan Metode Demontrasi (X2) terhadap Motivasi Belajar Siswa (Y).

Setelah dilakukan pengujian, Pengaruh Penggunaan Media Infocus (X1) dan Metode Demontrasi (X2)

 

Terhadap Motivasi Belajar siswa, Maka pengujian secara sampel yang berhubungan melalui uji friedman yaitu

  1. Hipotesis:

Ho: Pendapat responden terhadap penggunaan media infocus dan metode demontrasi terhadap motivasi belajar PAI siswa memiliki perbedaan yang positif

Ha: Pendapat responden terhadap penggunaan media infocus dan metode demontrasi terhadap motivasi siswa tidak memiliki perbedaan yang positif

  1. Statistik uji: Uji Friedman        = 0,05
  2. Daerah kritis: Ho ditolak jika sig ditolak
  3. Dari hasil pengelolahan dengan SPSS, diperoleh sign = 0,000
  4. Karena sign  <      (0,000 < 0,05) maka Ho ditolak

Karena Ho ditolak sehingga yang didapatkan adalah adanya pendapat respondent bahwa terdapat perbedaan positif pengaruh peng- gunaan media infocus dan metode demontrasi terhadap motivasi belajar  PAI  siswa  melalui uji respondent yaitu kelas  eksperimen  dan kelas control.

 

PENUTUP

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Terdapat pengaruh yang positif penggunaan media infocus didalam proses pembelajaran PAI terhadap motivasi belajar
  2. Terdapat pengaruh yang positif terhadap pelaksanaan metode demontrasi didalam proses pembelajaran PAI dengan meningkatnya motivasi belajar Terdapat pengaruh yang positif terhadap penggunaan media infocus dan metode demontrasi sehingga motivasi belajar PAI siswa meningkat

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, Muhammad, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Cet. 1 revisi, Bandung, CV Sinar Baru, 1987

Arifin, Zaenal, Evaluasi Instruksional Prinsip, Teknik, Prosedur, Bandung, Remaja Rosda Karya, 1990

Arikunto, Suharsimi, 1991, Manajemen Penelitian,

Jakarta, Rineka Cipta.

Asrori, Mohammad dan Mohammad Ali, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2004

Bukhori,    M.    Teknik-Teknik    Evaluasi    dalam Pendidikan, Bandung, Jemmars, 1983 Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik

Dalam   Interaksi   Edukatif,   Cet.III,   Jakarta,

Rineka Cipta, 2005

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Cet. II, Jakarta, Rineka Cipta, 2002

Campbell, David, Mengembangkan Kreativitas, (disadur Dian Paramesti   Bahar   dari   Take the road to creativity and get off dead and), Yogyakarta, Kanisius, 1995

Djohar. MS, Guru, Pendidikan & Pembinaannya, Penerapannya dalam Pendidikan dan UU Guru, Yogyakarta, Grafika Indah, 2006

Ensiklopedi Indonesia, 4, Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve

  1. Ayan, Jordan, Bengkel Kreativitas (10 ways to free your creative spirit and find your generation), Bandung, Sinar Baru, 1995
  2. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan), Bandung, Remaja Rosda Karya, 2004

Esti Wuryani, Sri, Psikologi Pendidikan, Cet.III, Jakarta, PT. Gramedia, 2006

  1. Aleinikov, Andrei, Mega Kreativitas: 5 Langkah menuju cara berpikir seorang jenius, Yogyakarta, Niagara, 2002

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research I, Yogjakarta, Yayasan Fakultas Psikilogi UGM, 1992

Hasan, Maimunah, Membangun kreativitas Anak secara Islami, Yogyakarta, Bintang Cemerlang, 2001

Hasan Sulaiman, Fatiyah, Sistem Pendidikan Versi Al Ghazaly, Cet. 2, terj. Fathur Rahman, Syamsuddin Asyrafi, Bandung, PT. Al Ma’arif, 1993

Hakim, Thursan, Belajar Secara efektif, Jakarta, Puspa Swara, 2000

Hadjar, Ibnu, Dasar-dasar metodologi penelitian kuantitatif dalam pendidikan, Jakarta, PT.Raja Grafindo Persada, 1999

Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, terj. Istiwidayanti dan Soe Oemar, Hamalik, Holistika Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: Raja Grafindo, 2005

James, Jenifer, Thinking in the future tense (Berpikir ke depan menyongsong millennium baru), Jakarta, Gramedia, 1998

Jawad, M. Abdul, Mengembangkan Inovasi dan Kreativitas berfikir pada diri dan organisasi anda, Bandung, PT. Syamil Cipta Media, 2002