Oleh: Lifia Feby Wulandari, S.H., M.Kn.

Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani (Griek Greece), yang berasal dari kata “Philos” dan “Sophia”. Philos artinya, senang, cinta, gemar dan Sophia artinya hikmat atau kebenaran, kebijaksanaan. Philosophia artinya cinta atu gemar, senang pada kebenaran, atau hikmat serta kebijaksanaan. Secara harfiah filsafat itu merujuk pada pencarian secara tak jemu-jemu kebenaran dan penerapannya yang pas pada kehidupan kita. Pencarian ini pasti berkobar dengan semangat "ketakjuban” alice in wonderland, semangat belajar untuk menuju kebenaran (Plamquist, 2007).

Perkembangan ilmu pengetahuan pada abad ke-21 saat ini sangat pesat. Seiring kemajuan peradaban umat manusia, maka ilmu pengetahuan juga berkembang sangat dinamis. Kesejahtraan umat manusia juga sangat ditentukan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Tidak dapat dipungkiri dalam mewujudkan masyarakat yang aman, tertib, damai dan sejahtra dalam konsep negara kesejahtraan (welfare state) sangat ditentukan oleh perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimuali dengan kedua-duanya. Pemikiran filsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kitat tahu dan apa yang kita belum tahu. Pemikiran filsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Sesungguhnya filsafat telah ada semenjak manusia ada, tetapi keberadaannya tidak diakui secara formal seperti filsafat sekarang. Sebab ia tidak digali, dihimpun, dan disistematiskan menjadi suatu hasil pemikiran.

Pokok permasalahan utama yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yaitu apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang temasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika).

Selain ketiga cabang utama tersebut, kemudian bertambah lagi yakni: (1) teori tentang ada: tentang hakikat kebendaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanyat terangkum dalam metafisika; dan (2) politik, yakni kajian mengenai organisasi social/pemerintahan yang ideal. Sehingga cabang utama 3 ditambah dengan 2 pertambahan berjumlah 5 berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang spesifik di antaranya filsafat ilmu (Suriasumantri, 1995).

Menurut Jujun S. Suriasumantri, arah pembahasan filsafat ilmu mencakup:

a) Ontologi: Hakikat Apa Yang Dikaji

Ontologi merupakan apa yang akan dikaji dalam ilmu pengetahuan atau hakikat apa yang dikaji. Apa di sini adalah mengenai objek dari suatu peristiwa. Dalam pembahasannya, ada metafisika yang membahas mengenai basic atau hal yang dasar. Faktor panca indera akan sangat berperan dalam mengkaji objek-objek dalam kehidupan. Panca indera akan membantu mengkaji mengenai teori keberadaan, dimana sesuatu yang ada pasti nyata dan ada.

b) Epistimologi: Cara Mendapatkan Pengetahuan Yang Benar

Epistemologi merupakan cara untuk mendapatkan pengetahuan. Ketika kita ingin mengetahui sesuatu, kita akan mencari cara bagaimana kita bisa mengetahui tentang apa yang ingin kita ketahui. Itulah yang merupakan hakikat epistemologi. Cara yang ingin kita gunakan dalam mendapatkan suatu pengetahuan bukan hanya sekedar cara yang penting kita bisa mengetahui sesuatu, namun bagaimana cara yang benar. Pada abad pertengahan, segala sesuatu yang diketahui dianggap sebagai pengetahuan. Konsep dasar pada waktu itu adalah kesamaan. Kemudian ketika berkembang abad penalaran, konsep dasar yang semula menggunakan kriteria kesamaan mulai berubah menjadi perbedaan. Pohon pengetahuan pun mulai membentuk cabang-cabang baru yang lebih kompleks. Pada saat itu juga terjadi diferensiasi bidang ilmu yang kemudian mulai mengerucut menjadi ilmu alam dan juga ilmu sosial.

c) Sarana Berpikir Ilmiah

Sarana berpikir ilmiah merupakan kumpulan dari pengetahuan-pengetahuan. Berpikir merupakan proses bekerjanya akal. Berpikir dilakukan secara alamiah dan secara ilmiah. Berpikir secara alamiah dilakukan pada pola penalaran sehari-hari. Sementara itu, berpikir secara ilmiah menggunakan pola penalaran pada sarana tertentu. Dalam praktiknya, seorang peneliti atau ilmuan harus menggunakan pola pikir secara ilmiah. Tujuan akhir dari sarana berpikir ilmiah adalah agar seseorang dapat berpikir ilmiah dengan baik.

d) Aksiologi : Nilai Kegunaan Ilmu

Aksiologi merupakan nilai kegunaan ilmu. Ilmu akan berguna bagi perkembangan peradaban manusia. Di dalam kehidupan, ilmu akan saling terkait dengan moral. Masalah moral tidak bisa dilepaskan dengan tekad manusia untuk menemukan kebenaran, sebab untuk menemukan kebenaran dan terlebih-lebih lagi untuk mempertahankan kebenaran, diperlukan keberanian moral. Sejarah kemanusiaan dihasi oleh semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan apa yang dianggap benar. Peradaban telah menyaksikan Sokrates dipaksa meminum racun dan John Huss dibakar. Sejarah tidak berhenti disini, kemanusiaan tidak pernah urung dihalangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral, ilmuwan rawan sekali dalam melakukan prostitusi intelektual.

Pilar Filsafat Ilmu

Pembahasan pilar filsafat ilmu terkait proses bagiamana keterkaitan aspek-aspek yang mempengaruhi ilmu dan sebaliknya. Pada dasarnya, pilar dibedakan menjadi pilar pada aspek ontologis, epistimologis dan aksiologis yang satu sama lain menpunyai fungsi atau karakter pembahasan yang berbeda, akan tetapi saling melengkapi satu sama lain.

Gambar 3.1. Pilar Filsafat ilmu. Sumber: (The Brundtland Comission of The United Nations)

Hubungan pilar satu dan yan laian hakikat untuk secara berpikir ilmiah atau logika berpikir yaitu apa yang akan dikaji dalam ilmu pengetahuan atau hakikat apa yang dikaji. Apa yang dimaksud adalah mengenai objek dari suatu peristiwa (ontologi) dilanjutkan dengan bagiaman cara untuk mendapatkan pengetahuan secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Ketika kita ingin mengetahi sesuatu, kita akan mencari cara bagaimana kita bisa mengetahui tentang apa yang ingin kita ketahui dengan cara yang benar sesuai dengan kaidah kelimuan yang telah berkembang masa ke masa. Ilmu dan pengetahuan inilah nantinya menjadi manfaat untuk manusia itu sendiri yaitu aksiologi terkait nilai kegunaan ilmu bagi kehidupan manusia.

 

*Mahasiswi Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Jambi