Oleh: Geby natalia Saputri

Saat ini para usaha mikro tidak habis-habis untuk memiliki ide atau tema untuk menjual beberapa dari banyaknya ide yang menurutnya dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk sekedar membantu tambahan uang jajan anak atau belanjaan dapur di rumah mereka. Seperti apa yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga dengan lima orang anak yang kini tiga anaknya sedang menempuh pendidikan yang sangat membutuhkan banyak sekali biaya untuk sekedar jajan mereka di tempat pendidikan masing-masing.

Apabila selama ini bisnis usaha kue tanpa toko permanen dan tanpa dibantu oleh karyawan hanyalah iseng-iseng atau hanya sampingan belaka, namun Mamyta berusia 51 tahun ini bisa mencapai omset dari Rp5-7 juta setiap bulan tanpa dibantu dengan karyawan tetap namun hanya dibantu oleh beberapa anak yang masih berada dirumah untuk menunggu pendidikan yang lebih tinggi menyusul kakak-kakaknya yang sudah berada di daerah lain untuk menjalani kuliah.

Ernalita Atau yang sering akrab disapa Mamyta ini adalah ibu rumah tangga yang memiliki lima orang anak yang kedua anaknya sudah selesai pendidikan dan ketiga adiknya sedang menjalani pendidikan tinggi yaitu kuliah di daerah Bungo, Jambi.

Ibu dari lima anak ini menekuni usahanya sejak tahun 2005 silam. Bermula dari passionnya dalam bidang tata boga yang di mulai dengan otodidak yang dapat menghasilkan. Awalnya Mamyta membuat makanan manis-manis seperti kue dan yang sejenisnya untuk acara ulangtahun anak pertamanya pada saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari situlah banyak teman-teman dari anak pertamanya mencoba memesan kue buatan Mamyta dan mulai merambat seperti sekarang, “walaupun ga buka toko permanen dan belum banyak yang tau pada saat itu, tapi hasilnya alhamdulillah” (Mamyta). Mamyta sempat bekerjasama dengan beberapa Wedding Organizer yang terdapat didaerah Bungo ini, namun karena sudah banyak yang bisa membuat kue dan sudah banyak yang memulai les dalam bidang tata boga, mamyta memutuskan untuk membatasi kerjasamanya dengan para wedding organizer.

“Sempat ingin buka toko karena dahulu di daerah sini (Bungo) jarang ada toko kue dan masih jarang yang bisa membuatnya apalagi sampe memasarkannya, tapi karena beberapa faktor ga jadi buka toko” katanya.

Namun walaupun di perkembangan zaman yang sangat pesat dan banyak orang yang sudah banyak yang bisa membuat kue atau ahli dalam hal ini, pesanan terhadap kue buatan rumahan ini tidak putus-putus akan pelanggan yang sudah menggemari kue buatan ibu dengan lima orang anak ini.

Apalagi di jaman yang seperti ini yang sedang dilanda pandemi seluruh negeri, orang-orang dituntut untuk tinggal dirumah saja dan tidak boleh untuk keluar rumah, Mamyta menerima pesanan dengan jasa delivery (pesan antar) yang sangat pesat dan bahkan sampai harus menolak beberapa pesanan yang harus ditempuh lebih dari 10 km, “jadi ya sekitaran rumah aja, kita cari aman aja soalnya” Katanya.

Mamyta Lavella Tasty tidak hanya menjual berbentuk kue ulangtahun, tetapi karena Ibu lima orang anak ini memiliki passion dibidang ini ia mencoba-coba dengan tema lain selain kue ulangtahun. Yakni seperti donnat, dessert, brownies, pudding, salad buah, dan beberapa makanan lain seperti empek-empek dan dimsum. Hanya dimodalkan dengan coba-coba, Ibu Ernalita ini mencoba membuat Brownies mini-mini dan sampai di pindahkan ke food container berbentuk bowl ditambahkan dengan pudding dan fla yang dibuat oleh anak ke empat yang diharuskan untuk membantu Mamyta dirumah dikarenakan diderahnya kuliah mengalami zona merah akibat pandemi. “Indah buat iseng-iseng, eh jadi pada nambah. Terus indah foto dan alhamdulillah banyak yang minat untungnya alhamdulillah” Katanya.

Meskipun omzetnya masih berkisar Rp5-7 juta setiap bulan, ia mengaku sudah sangat senang, sebab ia mengaku dapat menyalurkan hobinya dengan melihat beberapa resep di sosial media terutama pada aplikasi TikTok dan dapat sedikit demi sedikit memberikan tambahan uang jajan kepada anak-anaknya yang saat ini jauh dengannya. Dan dengan modal pertama yaitu Rp80.000. Pemasaran Lavella tasty Mamyta setelah dari orang terdekat mulai merambah ke media sosial yang ada hingga dapat memenuhi pesanan yang lebih luas sebelum adanya pandemi di Indonesia.

 

*Mahasiswi Fakultas ekonomi dan bisnis islam, Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi