JAKARTA-Harga tiket pesawat domestik yang melambung tinggi sejak Januari, mendapat sorotan dari Anggota DPR RI yang membidangi pariwisata Sutan Adil Hendra (SAH). Berbicara di Jakarta (22/5) beberapa waktu lalu SAH menilai harga tiket hingga saat ini belum ada perubahan signifikan, sehingga sangat membebani masyarakat yang akan mudik lebaran.

"Harga tiket pesawat domestik yang mahal ini tentu sangat membebani masyarakat yang akan mudik, sementara pemerintah seolah tidak berdaya menghadapi ini," ungkapnya. 

Selain itu kondisi tersebut dinilainya berimbas pada sektor pariwisata, dimana harga tiket yang tinggi membuat pelaku industri wisata dan perhotelan tidak berekspektasi tinggi meski sebentar lagi memasuki musim libur Ramadan. okupansi berpotensi merosot 20–40 persen, inikan pukulan bagi pariwisata tanah air.

"Mahalnya harga tiket penerbangan sangat memukul industri hotel, restoran, dan transportasi, akibatnya okupansi hotel rata-rata 60 persen, berarti ada yang okupansinya tinggal 20 persen,’’ ujar Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI tersebut. 

Sehingga SAH mengkhawatirkan mahalnya harga tiket pesawat akan mengakibatkan target-target pariwisata tidak tercapai. Padahal, saat ini pemerintah sudah memutuskan pariwisata sebagai sumber pendapatan utama bagi keuangan negara. ’’Tiket domestik yang mahal bakal membuat wisatawan Nusantara (wisnus), terutama milenial, lebih memilih untuk pergi ke luar negeri,’’ katanya.

Bahkan SAH mengatakan fenomena stagnansi traffic wisatawan sudah tecermin dari libur panjang pada awal tahun.

’’Seperti Imlek lalu, tidak ada maskapai penerbangan yang mengajukan penerbangan ekstra. Pas libur Natal–tahun baru lalu, jumlah penerbangan ekstra hanya dalam hitungan jari,’’ jelasnya.

’’Ini turut menjadi masalah kita. Harga tiket sangat mahal, bahkan bukan hanya untuk destinasi kota wisata, tapi juga destinasi kota-kota besar. Naiknya bisa lebih dari 50 persen,’’ tegasnya.

Ke depan SAH mengatakan kalangan DPR RI berharap hal tersebut bisa menjadi perhatian bersama, baik dari pelaku industri penerbangan maupun pemerintah. Sebab, trend leisure cukup membaik setahun terakhir. Diperlukan dukungan dengan akses transportasi yang terjangkau untuk bisa menjaga tren positif pariwisata.

’’Perlu ada kerja sama antara pelaku usaha wisata dan airlines. Karena bisa lebih leluasa menawarkan promo kepada wisawatan domestik dan mancanegara saat harga tiket airlines lebih terjangkau,’’ pungkasnya.(red)