Jakarta – Berinvestasi di pasar modal di era kebiasaan baru menjadi tantangan dan peluang bagi para pelaku pasar modal, khususnya investor. Karena saat ini harga-harga instrumen pasar modal sedang berada di posisi relatif rendah dibandingkan masa prapandemi. Investor memiliki potensial return jika membeli produk investasi ketika membeli pada harga murah (harganya turun dibanding sebelum pandemi). 

Saat ini, kita akan mengulas produk investasi pasar modal selain saham. Investor memiliki alternatif investasi obligasi. Obligasi adalah surat utang yang dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jika saham merupakan bukti kepemilikan atas perusahaan, obligasi adalah bukti kepemilikan atas piutang. Sehigga, obligasi disebut juga surat utang. Obligasi berisi janji untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi.

Obligasi memiliki jangka waktu penerbitan mulai dari jangka menengah hingga jangka panjang dan dapat dipindahtangankan. Konsep dasar obligasi, contohnya, Pak Ahmad ingin membuka kios bakso yang membutuhkan modal Rp10 juta. Namun, Pak Ahmad hanya memiliki modal Rp5 juta. Untuk menutupi kebutuhan modal, Pak Ahmad menerbitkan obligasi senilai Rp5 juta dengan jangka waktu penerbitan 5 tahun.

Surat utang senilai Rp5 juta tersebut dibeli oleh lima orang teman Pak Ahmad masing-masing Rp1 juta. Atas pembellian surat utang tersebut, si pembeli mendapatkan imbal hasil kupon yang besarnya ditetapkan di awal, misalnya 10% per tahun dengan pembayaran kupon setiap 6 bulan. Nanti, saat jatuh tempo tahun kelima, Pak Ahmad akan mengembalikan pinjaman dalam bentuk obligasi tersebut atau membayar kembali pokok obligasi senilai Rp1 juta kepada masing-masing temannya yang membeli obligasi yang ditawarkannya pada lima tahun yang lalu di Pasar Perdana. Kepemilikan kios bakso sejak awal tetap menjadi milik Pak Ahmad.

Selama obligasi kios bakso Pak Ahmad belum jatuh tempo, obligasi yang dipegang teman-teman Pak Ahmad bisa diperjuabelikan di Pasar Sekunder. Investor yang membeli obligasi di Pasar Sekunder akan menerima kupon setiap enam bulan dan pembayaran pokok obligasi saat jatuh tempo. Harga obligasi di Pasar Sekunder bisa naik dan turun mengikuti hukum permintaan dan penjualan. Mendekati jatuh tempo, harga obligasi akan cenderung mendekati 100% dari harga nominal, karena senilai itulah yang akan dibayarkan penerbit obligasi sebagai pembayaran pokok atas surat utang yang diterbitkannya.

Jadi, ada dua pilihan bagi investor yang membeli obligasi di Pasar Sekunder atau saat obligasi tersebut diterbitkan. Pertama, memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo yang berarti dia akan menikmati keuntungan berupa kupon selama lima tahun, atau kedua, memperjualbelikan obligasi tersebut dengan mengharapkan imbal hasil capital gain (selisih harga beli dan jual). Cara membeli obligasi juga relatif mudah, investor dapat membeli obligasi secara langsung melalui perusahaan sekuritas (broker) atau bank yang menyediakan layanan pemesanan obligasi.

Instrumen lain yang ada di pasar modal adalah reksa dana. Reksa dana adalah sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal (sebagai unit penyertaan) untuk diinvestasikan dalam berbagai saham atau instrumen investasi lainnya oleh Manajer Investasi. Nilai dari pengelolaan dana tersebut dibukukan dalam “Nilai Aktiva Bersih” (NAB) Reksa Dana. NAB inilah yang digunakan sebagai indikator harga suatu Reksa Dana. Semakin meningkat NAB per Unit Penyertaan suatu Reksa Dana, maka semakin tinggi pula keuntungan investor.

Reksa dana bisa dipilih investor yang memiliki dana terbatas karena bisa dibeli relatif murah dibanding berinvestasi secara langsung pada instrumen saham dan obligasi. Juga bisa dijadikan alternatif bagi investor yang tidak mempunyai waktu untuk memantau pergerakan saham dan obligasi jika berinvestasi langsung, atau bagi investor-investor yang tidak memiliki kemampuan untuk memilih instrumen secara langsung.

Dengan hanya membeli satu unit reksa dana saja, investor sudah menitipkan dana di portofolio reksa dana yang dikelola Manajer Investasi (MI) secara profesional. MI yang akan berperan untuk menyusun portofolio investasi, memilih saham, obligasi dan instrumen pasar uang serta mengelolanya. Investor hanya membeli unit reksa dana dan memantau perkembangan harga unit. Ada pilihan reksa dana yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan investasi (target return), jangka waktu dan profil risiko, yaitu reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap (obligasi), dan reksa dana pasar uang.

Investor bisa membeli reksa dana melalui MI yang juga menjalankan fungsi pemasaran atau bisa juga melalui agen penjual reksa dana yang saat ini dilayani oleh bank-bank dan agen penjual lain termasuk sejumlah online shop.

Instrumen berikutnya adalah Exchange Traded Fund (ETF). Produk ETF ini adalah reksa dana tetapi yang diperdagangkan seperti halnya saham, yaitu di BEI. Jadi, investor bisa membeli ETF di Pasar Perdana melalui dealer partisipan atau perusahaan sekuritas yang telah bekerja sama dengan manajer investasi yang mengelola ETF tersebut, atau di Pasar Sekunder setelah tercatat di BEI dan kemudian dapat menjualnya kembali di Pasar Sekunder. (*)