JAMBI – Setelah mengalami kenaikan diawal tahun , harga TBS mengalami penurunan kembali. Untuk Harga TBS periode 08 sampai 14 Februari 2019 Provinsi Jambi mengalami penurunan sebesar Rp 2,13. 

“Nggak besar turunnya, ini hanya kaena factor proses tender CPO saja, turunnya juga kecil,” ujar Roy Asnawi Ketua Apkasindo Provinsi Jambi. 

Roy menyebutkan, harga TBS yang telah ditetapkan yakni untuk usia tanam 3 tahun Rp 1.152,47, usia tanam 4 tahun rp 1.225,29, usia tanam 5 tahun rp 1,282,08, usia tanam 6 tahun rp 1.335,95 dan usia tanam 7 tahun rp 1.369,73. 

Selanjutnya usia tanam 8 tahun rp 1.398,39, usia tanam 9 tahun rp 1.426,22 dan usia tanam 10-20 tahun rp 1.469,22. Sedangkan usia tanam 21-24 tahun rp 1.424,31 dan usia tana 25 thn rp 1.357,69. 

“Harga CPO Rp. 6.751,59 dan Kernel Rp. 4.341,63,” sebutnya. 

Ia menyebutkan, jika pada minggu pertama tahun 2019, harga TBS mengalami penurunan sebesar Rp 7,34 namun selanjutnya terus mengalami kenaikan. Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit periode 11 -17 Januari 2019 di Provinsi Jambi naik sebesar Rp 41,81. Kemudian kembali Harga Tandan Buah Segar (TBS)) sawit periose 18-24 Januari 2019 ini kembali membaik , mengalami kenaikan Rp 91,61.

Mulai 28 Januari 2019 sampai 31 Januari 2019 harga TBS naik Rp 33,13. Kemudian pada 1 Februari sampai 7 Februari 2019 harga mengalami kenaikan kembali sebesar Rp 14,55.

Sementara itu, beberapa waktu lalu Kepala Kantor Bank Indonesia Provinsi Jambi Bayu Martanto saat seminar ekonomi mengatakan harga komoditas CPO masih mengalami penurunan di tahun 2019. 

“Harga CPO diperkirakan masih menurun Hal ini disebabkan beberapa faktor. Pertama tekanan terhadap permintaan di mana kebijakan biofuel Uni Eropa yang menekankan pada aspek lingkungan kelangsungan lingkungan. Selain itu faktor tekanan lain juga terjadi karena kecenderungan penurunan permintaan CPO dari Uni Eropa akibat kampanye negatif kelapa sawit. Faktor kedua yakni produksi melimpah akibat kondisi iklim yang mendukung dan ketiga karena potensi perlambatan harga minyak akan mengakibatkan rendahnya harga CPU untuk kebutuhan biofuel,” jelasnya saat menyampaikan materi. (uya)