Jambi - Aktifitas angkutan batu bara di Jambi masih menjadi polemik di tengah masyarakat.

Kemacetan yang terjadi sejak sekian lama akibat angkutan batu bara, hingga kini belum ada solusi untuk memecahkan masalahnya.

Belum lagi, jumlah tonase angkutan batu bara yang melebihi kapasitas ini, merusak jalan nasional. 

Tak hanya itu, akibat tonase yang berlebih ini, angkutan batu bara ini kerap mengalami patah as hingga mengakibatkan macet panjang..

Pemerintah Provinsi Jambi sebelumnya telah menetapkan aturan, bahwa angkutan batu bara yang boleh beroperasi adalah mereka yang sudah memiliki stiker lambung. 

Namun pada kenyataannya di lapangan, masih saja ada angkutan batu bara tanpa stiker lambung, lalu lalang di jalan nasional.

Pihak Dinas Perhubungan Provinsi Jambi juga tak membantah kondisi ini.

Mereka mengatakan, memang ada sejumlah angkutan batu bara yang tak memiliki stiker lambung, tapi bisa beroperasi. 

Hal ini dikatakan Sekretaris Dishub Provinsi Jambi, Atma Jaya.

Dia menjelaskan, alasan angkutan batu bara yang tidak memiliki stiker masih diperbolehkan beroperasi, dikarenakan masih banyak sopir angkutan batu bara perorangan dan belum bergabung ke transportir.

"Saat ini angkutan batubara tanpa stiker masih diperbolehkan melintas. Kita upayakan nanti ajak semuanya agar mau bergabung di transportir, sehingga kita bisa mengevaluasi pengawasan terhadap kondisi kendaraannya, tonase dan lainnya," katanya, Kamis 25 Mei 2023.

Menurutnya saat ini sudah ada asosiasi batu bara, di mana dalam asosiasi tersebut semua transportir ikut bergabung.

Jadi segala urusan batu bara melalui asosiasi tersebut. "Saat ini stiker itu masih dalam perbaikan, stiker itu tetap diberlakukan nanti ke depan. Nanti Asosiasi angkutan batu bara untuk lebih menata mobilitas angkutan batu bara dari mulut tambang ke TUKS," jelasnya.

Atma Jaya berharap secepatnya para sopir angkutan batu bara perorangan dapat bergabung ke transportir.