JAMBI — Gelombang penolakan terhadap keberadaan tempat hiburan malam Helen’s Play Mart yang berlokasi di kawasan WTC Kota Jambi kembali menguat. Kali ini, desakan keras datang dari Aliansi Masyarakat Adat Melayu Jambi Bersatu yang menggelar aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Kota Jambi, Senin (12/1).
Dalam aksi tersebut, massa menuntut agar tempat hiburan malam itu ditutup secara permanen karena dinilai bertentangan dengan nilai-nilai adat, norma agama, serta kearifan lokal masyarakat Melayu Jambi.
Salah satu orator aksi, Ahmad Syukri, menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak aktivitas usaha secara umum. Namun, mereka menolak keras bentuk hiburan malam yang dinilai berpotensi merusak moral generasi muda dan mencederai marwah adat Melayu Jambi.
“Kami tidak anti usaha, tetapi kami menolak keras segala bentuk hiburan malam yang berpotensi merusak moral generasi muda dan mencederai marwah adat Melayu Jambi,” tegas Ahmad Syukri dalam orasinya.
Ia menambahkan, Kota Jambi dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi falsafah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Namun, keberadaan tempat hiburan malam yang dinilai bebas dan tidak terkendali dianggap bertolak belakang dengan identitas tersebut.
Menurut Ahmad Syukri, jika dibiarkan, tempat hiburan malam seperti Helen’s berpotensi memicu berbagai persoalan sosial, mulai dari pergaulan bebas, penyalahgunaan minuman keras, hingga gangguan ketertiban umum di tengah masyarakat.
“Kami khawatir generasi muda Jambi akan kehilangan arah jika pemerintah menutup mata. Ini bukan sekadar soal izin, tapi soal tanggung jawab moral dan sosial,” ujarnya.
Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi Masyarakat Adat Melayu Jambi Bersatu mendesak Pemerintah Kota Jambi, DPRD Kota Jambi, aparat penegak hukum, serta tokoh adat dan agama untuk bersikap tegas. Mereka meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin operasional Helen’s Play Mart, hingga penutupan jika terbukti melanggar aturan dan norma yang berlaku.
Aksi tersebut, lanjut Ahmad Syukri, merupakan bentuk kepedulian masyarakat adat terhadap masa depan Jambi, bukan kepentingan kelompok tertentu.
“Kami berdiri untuk menjaga Jambi tetap beradat, bermoral, dan berkarakter Melayu. Jangan biarkan hiburan malam merusak sendi kehidupan sosial masyarakat,” tutupnya.