Merangin - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sarolangun terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui kegiatan peternakan itik di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).

Program ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan produktif.

Dalam kegiatan tersebut, warga binaan mendapatkan pembelajaran dan pendampingan mengenai tata cara beternak itik, mulai dari perawatan, pemberian pakan, pemeliharaan kesehatan ternak, hingga pengelolaan peternakan agar dapat menghasilkan produk yang bernilai ekonomis.

Saat ini, jumlah itik yang diternakkan di SAE Lapas Sarolangun mencapai kurang lebih 500 ekor. Peternakan ini diproyeksikan mulai menghasilkan telur dalam waktu sekitar 10 hari ke depan. Hasil produksi nantinya direncanakan untuk dipasarkan ke pasar tradisional dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Sarolangun dan sekitarnya. Program ini tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, etos kerja, serta jiwa kewirausahaan.

Melalui kegiatan produktif tersebut, warga binaan diharapkan memiliki bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana dan kembali ke tengah masyarakat. Kepala Lapas Kelas IIB Sarolangun, Ibnu Faizal, A.Md.IP., S.Sos. menyampaikan bahwa pengembangan peternakan itik merupakan bagian dari komitmen Lapas Sarolangun dalam mengoptimalkan pembinaan kemandirian melalui program ketahanan pangan.

“Melalui kegiatan peternakan itik di SAE ini, kami ingin memberikan keterampilan nyata kepada warga binaan agar mereka memiliki kemampuan yang produktif dan bernilai ekonomi. Dengan jumlah sekitar 500 ekor itik yang saat ini kami pelihara, kami berharap dalam waktu dekat peternakan ini dapat mulai menghasilkan telur dan berkembang menjadi unit usaha yang berkelanjutan,” ujar Ibnu Faizal.

Ia menambahkan, hasil peternakan tersebut ke depannya diharapkan dapat dipasarkan kepada masyarakat melalui pasar tradisional maupun UMKM, sehingga kegiatan pembinaan tidak hanya memberikan manfaat bagi warga binaan, tetapi juga berpotensi mendukung perputaran ekonomi lokal.

“Pembinaan di dalam lapas bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang mempersiapkan warga binaan agar mampu memperbaiki diri dan kembali ke masyarakat dengan keterampilan yang bermanfaat. Kami ingin mereka memiliki bekal untuk mandiri, berwirausaha, dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti,” tambahnya.

Melalui pengembangan peternakan itik ini, Lapas Kelas IIB Sarolangun berkomitmen untuk terus mengoptimalkan Sarana Asimilasi dan Edukasi sebagai wadah pembinaan yang produktif, mendukung ketahanan pangan, serta mempersiapkan warga binaan menjadi pribadi yang mandiri dan siap berkontribusi positif bagi masyarakat.(les)