MUAROJAMBI - Rachju Rizki Perdana (18) hanya bisa terbaring lemah di pembaringan. Kondisi fisik warga RT 22 Desa Talangbelido Kecamatan Sungaigelam ini hanya tinggal kulit pembalut tulang akibat sakit yang dideritanya. Untuk mendeteksi kepastian penyakit yang dideritanya serta tindakan medis lanjutan, ia harus melakukan pengobatan ke Palembang. Namun apa daya, lantaran tak punya biaya untuk keberangkatan dan biaya selama berada di Palembang, orang tuanya hanya bisa pasrah dan berharap uluran tangan dermawan dan pemerintah. Saat ini Rhaju hanya dirawat di rumah dengan dibantu cairan infus dan oksigen.

"Kata dokter anak saya ini mengalami pembengkakan di jantung dan harus dirujuk ke rumah sakit di Palembang," ungkap Esa Yulyanti orang tua Rhaju Minggu (1/9/19)

Esa bercerita, awal sakit yang diderita Rachju saat ia pulang bekerja di Merlung Tanjab Barat pada bulan November tahun lalu. Saat itu ia mengeluhkan dadanya sangat sakit sepertu ditusuk-tusuk. Awalnya sang ibu memberikan obat penghilang nyeri namun sakit yang diderita Rhajy tak kunjung hilang. 

"Akhirnya saya bawa berobat ke rumah sakit dan direkomendasikan untuk dirawat inap," katanya.

Setelah keluar dari rumah sakit, ternyata penyakit Rachju tak kunjung sembuh. Singkat cerita Rhaju pun mesti keluar masuk rumah sakit. 

"Akhirnya anak saya dilakukan tindakan penyedotan pada bulan April lalu di RSUD Mattaher karena ada cairan menyelimuti paru-parunya. Cukup banyak cairan yang disedot sekitar 11 liter," cerita Esa.

Usai disedot cairan yang menyelimuti paru-parunya Rachju pun pulang namun sakit pada dadanya masih terasa kentara. Alhasil dia harus kembali ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD Mattaher, diketahui ada semacam benjolan di dekat jantung Rachju. Menurut Esa, Dokter yang menangani Rhaju menyarankan agar ke Palembang untuk memastikan penyakit serta tindakan medis yang harus dilakukan.  

"Kalau untuk berobat mungkin dijamin oleh BPJS tapi untuk keberangkatan dan biaya di sana kita tak punya uang," kata dia.

Dengan berurai air mata, Esa bercerita kalau dirinya harus menjadi orang tua tunggal bagi Rachju. Ayah Rachju sudah meninggak dunia sejak Rachju berusia tiga bulan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci pakaian. Kini ia hanya bisa pasrah dan berharap ada uluran tangan dermawan ataupun pemerintah.

"Mudah-mudahan pemerintah bisa membantu ataupun ada uluran tangan dermawan agar anak saya bisa berobat ke Palembang," tandasnya sambil tersedu.

Sementara Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah Jambi Essy Sulistiawati usai menjenguk Rachjy merasa trenyuh melihat nasib mantan muridnya tersebut. Dia tak menyangka, muridnya yang periang dan berprestasi tersebut harus menderita sakit yang parah hingga tubuhnya tinggal kulit pembalut tulang.

"Saya baru dapat kabar dari grup WA dan langsung berkunjung ke rumahya. Atas insiatif bersama kami urunan untuk membantu meringankan beban keluarga," kata Essy.

Meski tak seberapa dia berharap bisa meringankan beban keluarga Rachju dan menjadi pintu masuk para dermawan yang hendak membantu meringankan beban Rachju. 

Dia pun mengimbau kepada para dermawan yang ingin membanyu untuk mengirimkan donasi melalui No. Rek 002001141715502 atas nama Endah Pratiwi.

"Bisa juga melalu saya atau langsung ke rumah Rachju di RT 22 Jln Lingkar Selatan Desa Talangbelido Kecamatan Sungaigelam Kabupaten Muarojambi," pungkasnya.(dir)