KUALATUNGKAL-Kondisi gawat darurat yang dihadapi negara Tiongkok akibat serangan virus Corona bukan saja melemahkan kesehatan bangsa China tersebut namun perekonomian dunia mulai "melorot' drastis dampak global wabah "menakutkan" ini. Tidak terkecuali sejumlah nelayan dan pengusaha perikanan laut di Tanjungjabung Barat mengeluhkan kondisi ini, komuditas mereka berupa udang ketak mengalami hambatan masuk pasar ekspor ke Hongkong dan Taiwan sehingga mengancam keberlangsungan usaha perikanan laut di daerah ini.

Pemkab Tanjungjabung Barat merespon cepat apa yang dialami nelayan di wilayahnya sehingga mengundang para nelayan dan pengusaha udang ketak untuk bersama-sama mencari solusi atas dampak atas "musibah" yang melanda negeri Tirai Bambu tersebut yang akibatnya kran eksport ditutup sementara waktu, sehingga nelayan dan pengusaha perikanan laut yang terdampak diminta mampu menyikapi kondisi dengan tidak panik namun tetap berikhtiar agar mampu mengatasi hal ini.

Menanggapi permasalahan tersebut, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat menggelar rapat bersama perwakilan nelayan dan pengusaha udang ketak bertempat di ruang rapat wakil bupati, belum lama ini.

Salah satu pengusaha/penampung udang ketak di Kualatungkal M Taher mengemykakan dalam rapat tersebut bahwa selama ini importir utama udang ketak dari Tanjungjabung Barat adalah Hongkong dan Taiwan. Akibat wabah Corona seluruh kegiatan perjalanan laut dan udara menuju negara tersebut telah dihentikan dan hingga importir dari Taiwan dan Hongkong tidak lagi melanjutkan order udang ketak dari Indonesia." Sementara itu kalau kita jual di lingkup lokal, harganya jauh, turun drastis", ungkapnya.

Senada dengan M. Taher, Fendi yang merupakan perwakilan nelayan pada kesempatan itu berharap agar Pemkab Tanjungjabung Barat segera memberikan solusi terkait permasalahan ini. Menurutnya pemberian bantuan jaring ikan dapat menjadi salah satu alternatif sementara bagi nelayan. Dengan adanya bantuan jaring ikan lanjutnya, nelayan tidak hanya bergantung pada tangkapan udang ketak semata. 

" Ya setidaknya dengan menganti jaring kami menjadi jaring ikan, kami tidak bergantung menangkap udang ketak saja", kata fendi.

Asisten Perekonomian Setda, H Erwin yang memimpin rapat bersama itu menghimbau kepada dinas terkait untuk segera mendata nelayan yang terdampak permasalahan ekspor udang ketak agar dapat segera bisa ditindak lanjuti. Selain itu H Erwin juga menegaskan kepada dinas terkait untuk segera melakukan konsultasi ke pemerintah pusat terkait hal ini.

" Diharapkan nanti, setelah konsultasi dengan pemerintah pusat bisa didapatkan solusi. Setidaknya dengan adanya informasi dari kita, pihak kementerian sosial mendapatkan gambaran dan segera melakukan upaya antisipasi," ungkap H Erwin. 

Sementara itu, kepada perwakilan nelayan dan penampung udang ketak, Asisten II yang sebelumnya menjabat sebagai Staf Ahli Bupati ini menyampaikan bahwa usulan penggantian jaring udang ketak ke jaring ikan akan di teruskan ke pimpinan untuk di pertimbangkan. Dalam rapat itu Erwin juga menyarankan agar nelayan yang terdampak untuk sementara dapat beralih profesi menjelang kegiatan ekspor di buka kembali.

" Karena lama atau tidaknya dampak dari permasalahan ini belum bisa diprediksi jadi menurut saya sementara waktu ya beralih profesi dulu demi kebertahanan perekonomian keluarga", katanya. 

Hadir pada rapat bersama tersebut para Kepala OPD terkait seperti Kadis Sosial, Kadis Koperindag, Kepala BPBD, Kadis Ketahanan Pangan, Bappeda dan juga Kadis Perikanan dan Kelautan.(ifa)