JAMBI - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jambi setidaknya telah membangun 28 ruang kelas baru yang terdapat dalam 133 madrasah negeri di Provinsi Jambi selama tahun 2018.
Pembangunan ini diperoleh dari seleksi ketat oleh Kementerian pusat, terhadap madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah ataupun Aliyah Negeri yang mengirimkan proposal online ke pusat.
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Jambi Abdurrahman, menyampaikan sistem pengajuan RKB dan rehabilitasi ruang kelas memang tidak melalui proposal tertulis lagi, karena setiap madrasah langsung mengisi permohonan online yang telah disiapkan pihaknya yakni Sistem Informasi Madrasah Sarana dan Prasaran (SIM Sarpras).
"Nanti yang dapat adalah sekolah yang benar-benar layak, dimana ketentuannya disesuaikan dengan jumlah siswanya dan daya tampung sekolah itu sendiri, dan juga perencanaan dari madrasah tersebut," ujarnya. Senin (14/1/2019) kemarin.
Dari pembangunan ruang kelas pada 2018, Abdurrahman menyebut untuk madrasah negeri terdapat pada pembangunan RKB di MTS dan MA, tidak sebanyak 11 RKB untuk kedua jenjang ini. Sedangkan MI hanya ada 6 RKB yang dibangun pada 2018.
Selain itu terdapat pula 27 ruang kelas yang direhabilitasi untuk ketiga jenjang madrasah negeri ini.
Selain, infrastruktur Abdurrahman menyampaikan pihaknya juga sudah mengadakan peralatan laboratorium komputer pada Mts dan MA sebanyak 30 set.
"Disampingnya itu juga kita bangun Laboratorium komputer baru sebanyak 4 ruangan untuk MA dan Mts," sebutnya.
Selebihnya Abdurrahman menyebut pihaknya juga sudah mengadakan 9 paket meja dan kursi (Meubelair) madrasah sebanyak 9 paket .
Abdurrahman berharap agar nantinya, Madrasah Negeri dapat menjaga bantuan yang telah diberikan kemenag.
"agar dijaga sebaik-baiknya karena susah mendapatkan bantuan ini , anggaran kita terbatas," harapnya.
Sementara untuk Madrasah swasta sendiri Abdurrahman menyebut memang pihaknya tidak bisa memberikan bantuan dengan jumlah yang sama dengan Negeri. Karena untuk Negeri saja yang menjadi tanggungan Kemenag banyak yang tidak dapat bantuan.
"Harusnya untuk madrasah swasta menjadi tanggung jawab masyarakat , juga bisa dibantu oleh APBD Provinsi maupun Kabupaten, karena menjadi milikasyarakat walaupun juga dikelola oleh yayasan," paparnya.
Untuk swasta sendiri Abdurrahman menyebut selama 2018 pihaknya hanya membangun 8 ruang kelas baru. Sementara untuk rehabilitasi sendiri hanya cukup untuk memperbaiki 8 kelas saja.
"Selebihnya kita bantu Meubelair sebanyak satu paket dan alat peraga edukatif (APE) juga kita beri sebanyak 4 paket," jelasnya.
Untuk tahun 2019 sendiri , Abdurrahman juga berharap agar lebih banyak Madrasah negeri ataupun swasta yang dapat bantuan Kemenag.
"Untuk alokasi dananya sendiri kita belum tahu berapa diperuntukkan tahun ini, juga untuk jumlah bantuan 2018 lalu kita tidak bisa rincian, karena belum melihat RKKLnya," tuturnya.
Mengenai teknisnya pada Rehabilitasi ruang kelas, Abdurrahman menyebut memang ditransfer pusat langsung ke rekening madrasah.
" Karena dia Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), jika sudah disetujui pusat akan dikirimkan langsung, berbeda dengan Ruang Kelas Baru yang masih belum langsung," ujarnya.
Untuk jumlah madrasah negeri sendiri, Abdurrahman menyebut ada 133 sekolah dalam tingkatan Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, madrasah Aliyah. Sementara untuk lembaga swasta sederajat ada 994 sekolah.
"Jadi totalnya ada 1127 sekolah yang dibawah naungan kanwil Kemenag," sebutnya.
Untuk jumlah madrasah negeri terbanyak sendiri kabid dikmas menyebutkan sebelumnya terdapat di Kerinci. Namun saat ini setelah ada pemekaran, yang terbanyak adalah Merangin.
" Yang jelas, pada 2019 tetap akan diusulkan penegerian madrasah di tingkat pusat," tandasnya. (uya)