Nurbayah Dari Tanjabbar Terdampak Pandemi Corona Layani Pesanan Masker
KUALATUNGKAL,Halo Jambi.id-Pandemi Corona telah hampir satu tahun terakhir ini menjadi "momok" bagi dunia. Sehingga semua lini kehidupan manusia di muka bumi telah terdampak oleh kemunculan virus penyakit asal Wuhan, China tersebut.
Tidak terkecuali sektor ekonomi yang turut terpuruk dengan mengalami krisis akibat Covid-19 yang mengganas sejak Januari 2020. Bangkit dari memburuknya keadaan perekonomian saat ini banyak diserukan oleh pemerintah, agar masyarakat kembali termotivasi guna meningkat produktivitas di semua sektor.
Akan halnya masyarakat Tanjungjabung Barat, Provinsi Jambi sebagian besar mengalami keterpurukan akibat pandemi Covid-19 tersebut, namun dengan segala upaya dan ketegaran banyak yang telah mampu beradaptasi dengan keadaan ini, usaha ekonomi kerakyatan misal paling terimbas, bahkan beberapa usaha rumahan terpaksa menutup kegiatannya, akibat ketidakmampuan berhadapan dengan "hantaman" kuat kelesuan ekonomi secara global . Setelah gerakan adabtasi kebiasaan baru diterapkan pemerintah secara berlahan sudah banyak kegiatan usaha yang kembali beroperasi.
Perempuan, bernama Nurbayah (38), ibu rumah tangga, warga Kualatungkal, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Tanjungjabung Bara (Tanjabbar), Provinsi Jambi selain mengalami kesedihan jiwa akibat perceraian dengan sang suami di awal tahun ini, wanita inipun harus mengalami dampak buruk perekonomian akibat Covid-19.
Sendirian menanggung dan membiayai sendiri hidup tiga anak-anaknya di tingkat usia 10, 8 tahun dan yang bungsu berusia,1 tahun 10 bulan setelah menjadi ibu tunggal, membuat hidup Nurbayah semakin terpuruk. Namun Nurbayah adalah wanita yang tegar dan tangguh tidak ingin berlama-lama menanggung "derita" hidup, dia bangkit memberdayakan diri dengan keahliannya di bidang tata busana dan jahit menjahit, mengambil upah jahitan pakaian dari warga sekitar membuat Nurbaya pelan-pelan mampu hidup mandiri tanpa seorang suami yang memberinya nafkah.
" Saya harus bisa mandiri setelah perceraian saya dengan suami karena tiga-anak-anak saya harus dikasih makan dan sayalah ibunya yang mesti bekerja keras agar anak-anak ini bisa terpenuhi kebutuhan hidupnya yaitu makan-minum dan pendidikannya, " ujar Nurbayah sore itu saat diwawancara Halo Jambi.id Kamis (5/11) di Kualatungkal.
Nurbayah mengisahkan bahwa dirinya sangat terdampak akibat Covid-19 tersebut, usaha menjahit pakaian yang dirintisnya sejak menikah sempat mengalami kendala produksi akibat tak ada pelanggan yang datang meminta jasanya."Sejak adanya Corona usaha saya terhambat pelanggan tak banyak yang datang minta jasa jahit dari saya, lalu saya berpikir untuk lebih kreatif memanfaat situasi saat ini, masyarakat di luar sana membutuhkan masker, akhirnya dari hal ini saya membuat masker dari kain, karena orang banyak membutuhkan masker sebagai pelindung diri dari terpapar Corona. Alhamdulillah pesanan mulai berdatangan, sejak saya merintis pembuatan pesanan masker baik yang dipesan masyarakat secara pribadi maupun oleh instansi pemerintah," ungkap wanita tangguh ini.
Seiring berjalannya waktu, mulai menggeliatnya kembali ekonomi masyarakat usaha jahit pakaian yang dilakoni sebelumnya menurut Nurbayah kembali banyak berdatangan orderan padanya."Sekarang selain melayani pesanan masker, pelanggan saya kembali berdatangan minta dijahitkan baju atau permak pakaian, saya melayani pesanan mereka dengan mendatangi pelanggan yang minta dijahitkan baju melalui pesanan via telepon, setelah ada kesepakatan saya datang mengambil bahan yang akan dijahit dan mengantar sendiri dengan mengendarai sepeda ke rumah pelanggan. Beginilah keadaanya cuma bisa naik sepeda ... entah kapan bisa beli motor walau hanya second belum tahu, buat makan sehari hari saja susah ... ya cuma bisa berharap dan berdoa," ungkap wanita asal Sulawesi Selatan itu.
Petang itu saat semburat merah jingga di langit bertanda senja telah tiba, mentari mulai menghilang di cakrawala, nampak Nurbayah masih akan pergi mengantarkan pesanan jahitan baju dari pelanggannya yang baru selesai dikerjakannya, perempuan itu menaiki sepedanya, mengenakan jilbab dan tak lupa memsksi masker buatannya Nurbayah menuju ke rumah salah satu pelanggannya.
Wajahnya nampak letih namun Nurbayah tetap mengayuh roda sepeda hingga tiba di rumah pelanggannya, jerih payahnya hari terbayar sudah dengan upah yang diperolehnya dari menjahit pakaian."Saya apa bila keluar rumah selalu mengenakan masker begitupun anak-anak saya, saya ingin mereka tetap terlindungi di masa pandemi seperti ini," sebutnya.
Melayani banyak pesanan pembuatan masker dari berbagai pihak Nurbayah setiap hari disibukan oleh kegiatan menjahit, sehingga wanita ini mengaku cukup kelelahan juga karena semua dikerjakan sendiri."Saya walau penat setiap hari bekerja menyelesaikan pesanan orang, namun kesibukan saya ini mampu menopang pembiayaan hidup saya dengan tiga anak sehingga masa pandemi saat ini tidak membuat saya hidup dengan terus mengeluh namun saya optimis sebagai perempuan yang merupakan ibu tunggal saya harus berpikir kreatif di dalam mencari nafkah hidup sehingga mampu tetap produktif di tengah "badai" Corona saat ini," ucap Nurbaya dengan nada bersemangat.
Mesin jahit satu-satunya yang dimilikinya menurutnya adalah aset berharganya, merupakan "mesin produksi" yang harus berputar sebab keberlangsungan perekonomiannya ada pada benda tersebut. Promosi usaha yang dijalaninya terlihat pada sehelai spanduk di mesin jahitnya "Nurbaya 0821xxxxxxxx"." Pelanggan dapat menghubungi saya melalui nomor WA yang tercantum di spanduk ini, kata Nurbayah menunjuk spanduk yang menempel di sisi depan mesin jahitnya.
Pesanan masker yang datang kepadanya dikatakan Nurbayah selalu ada hampir setiap hari, namun keterbatasan tenaga dimilikinya Nurbaya mengaku hanya maksimal mampu mengerjakan sebanyak 50 lembar masker setiap harinya," Terkadang tidak tentu juga namun saya bisa menyelesai pekerjaan membuat 50 lembar masker per harinya, tenaganya karena tidak ada yang bantu saya," sebut Nurbayah.
Saat ini Nurbayah sedang memperoleh pesanan yang lumayan besar sebanyak 500 lembar." Pak Kapolres minta dibuatkan masker 500 lembar untuk dibagi-bagikan kepada masyarskat, namun tidak buru-buru pesan beliau sesanggup saya menyelesaikannya secepatnya, walau beliau tidak kasih tenggat waktu, tapi sekarang ini pesanan itu sudah hampir selesai saya kerjakan," tutur wanita mandiri ini.
Nurbayah menetapkan standar harga per lembar masker yang dibuatnya seharga harga Rp 5000." Untuk bahannya dari saya, namun pelanggan biasanya meminta kualitas bahan yang terbaik sesuai standar masker kain yang memenuhi ketentuan medis (protokol kesehatan) semua pesanan model yang sama itu harganya Rp. 500O ini berlaku untuk semua jenis bahan kain yang digunakan," ujarnya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak,Pengendalian Penduduk Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Tanjungjabung Barat Muhammad Yunus yang dikonfirmasi Halo Jambi.id Jumat (6/11) melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Siti Nopita mengatakan sangat mengapresiasi semangat seorang perempuan berupaya bangkit di tengah kekhawatiran pandemi Corona guna tetap produktif menjalankan peran di rumah tangga dan sekaligus sebagai pencari nafkah keluarga.
"Menurut saya Bu Nurbayah patut dijadikan contoh sebagai perempuan yang mandiri, kreatif dan inspiratif karena Bu Nurbayah mampu membuktikan dirinya bahwa menjadi single parent di tengah-tengah suasana sebagian masyarakat mengalami kondisi ekonomi yang sulit namun Bu Nurbayah mampu bertahan sebagai penopang kebutuhan ekonomi keluarga, Bu Nurbayah perempuan tangguh, semoga ibu-ibu lainnya mampu memberdayakan diri seperti yang dilakukan Bu Nurbayah," ungkap Nopita.
Menginspirasi apa yang telah dilakukan Nurbayah untuk bangkit dari keterpurukan hidup yang dialaminya setelah retaknya pernikahannya yang berusia 10 tahun, Nopita menilai perempuan mampu memberdayakan diri guna menghapus kesenjangan ekonomi perempuan yang terdampak Covid 19." Mari kita buktikan perempuan bisa dan mampu menjadi pelaku pembangunan ekonomi bukan sekedar objek pembangunan, kita hapus kesenjangan ekonomi perempuan dengan berpikir dan bertindak cerdas, kreatif dan inovatif dan jangan lupa ikhlas, semoga ke depannya lebih banyak ibu Nurbaya lainnya di Kabupaten Tanjungjabung Barat.
Ketua Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Kabupaten Tanjungjabung Barat Hj. Romy saat dihubungi Halo Jambi.id Jumat (6/11) menggemukakan tentang banyaknya persoalan yang dialami perempuan dalam keseharian hidupnya di rumah tangga, sehingga hal ini menciptakan kondisi mental perempuan yang harus tangguh dan kuat serta "tahan banting" namun salah langkah bagi perempuan bisa stres juga jika bertubi-tubi masalah menimpanya.
" Dalam masa pandemi saat ini perempuan harus tampil di garda pertama melindungi keluarga dari terpapar virus Corona namun di sisi lain dia perempuan dituntut kreatif dan produktif dalam mengelolah urusan perekonomian keluarga, saya melihat Ibu Nurbayah telah memperlihatkan ketegarannya sebagai perempuan, meski ikatan pernikahannya kandas di tengah jalan dan di tengah situasi pandemi Covid 19 saat ini dia harus seorang diri berjuang mengatasi persoalan ekonominya, namun dia mampu bangkit tidak terpuruk dalam kesedihan seperti perempuan lainnya yang lemah, dan terpuruk jika berhadapan dengan himpitan ekonomi dan kemuskinan," kata Hj Romy.
Dampak ekonomi akibat krisis kesehatan dunia dengan kemunculan pandemi Corona melanda bumi HJ Romy menilai hal ini isyarat dari Allah untuk perempuan lebih tangguh dan kreatif sebagai penopang hidup keluarga.
" Dampaknya terhadap ibu-ibu rumah tangga dari sisi ekonomi sangat nyata, disini perempuan mendapat tantangan untuk berpikir cerdas dan lebih kreatif menjadi pelaku ekonomi banyak yang bisa dilakukan perempuan dengan kedua belah tangannya dan akal pikirannya yang cerdas, dari perempuan terdampak Corona bisa bangkitkan ekonomi kerakyatan demplot kerjanya 1001 macam bisa dihasilkan oleh perempuan, misalnya menjual jasa cuci dan gosok yang bisa dikerjakan di rumah sendiri, karena karunia Allah terhadap perempuan sangat luar biasa, Allah tahu kemampuan hambaNya sehingga perempuan dilengkapi naluri keibuan yang kuat dan membuatnya tangguh berhadapan dengan seribu macam tantangan dan cobaan hidup yang dilalui seorang perempuan dalam kehidupannya." sebut HJ. Romi mengakhiri bincang-bincang dengan Halo Jambi.id.(ifa)