Batanghari - Pohon aren liar yang berada di pinggiran Sungai Batanghari di Desa Malapari Kecamatan Muara Bulian, merupan salah satu sumber pemasukan eknomi warga yang sudah berjalan puluhan tahun. Pohon aren tersebut disadap warga untuk mendapatkan air aren (nira-red) untuk dijadikan gula aren, yang diproduksi secara tradisional dengan peralatan seadanya.
Seorang petani aren, Suhendra, kepada Halojambinews, Rabu (27/02/2019) mengatakan bahwa proses pembuatan gula aren tersebut dilaksanakan warga secara rumahan, serta pemasarannya secara mandiri.
" Yang kami sadap, pohon aren liar yang tumbuh di pinggiran sungai. Kemudian hasil sadapan kami olah di rumah menjadi gula aren. Kemudian warga menjualnya sendiri-sendiri. " kata Suhendra.
Mewakili petani aren lainnya, Suhendra mengharapkan pemerintah agar dapat memberikan perhatian serta bantuan bibit aren yang mempunyai kualitas bagus untuk meningkatkan produksi air nira.
" Harapan kami, pemerintah dapat memberikan bantuan bibit berkualitas, serta memfasilitasi proses pemasarannya. " ucap Suhendra.
Diakuinya, memang pemerintah pernah memberikan bantuan bibit pohon aren, namun tidak tepat sasaran, serta kualitas bibit tersebut kurang bagus.
" Yang banyak menerima bibit, setelah tumbuh besar, namun tidak melakukan penyadapan. Sedangkan petani aren yang benar-benar menggantungkan. hidupnya dari hasil penyadapan, tidak menerima bantuan bibit. Kalaupun ada, hanya bibit sisa yang kurang kualitasnya." sambungnya lagi.
Harapannya ke depan, pemerintah agar dapat selektif dalam pendistribusian bantuan bibit ke warga.
" Semoga ke depannya, pemerintah harus selektif mendistribusikan bantuan bibit" pungkasnya.
Bagi warga petani aren, keuntungan yang didapat mereka dari air nira untuk pembuatan gula aren, lebih tinggi daripada menyadap karet. Petani aren dalam satu hari, mampu meraup untung 100 ribu sampai 300 ribu perhari. (Fri)