Kuala Tungkal - Warga tanjung jabung barat patut berbangga. Pasalnya ada 5 (lima) orang putra-putri asli daerah yang memiliki segudang prestasi di cabang olahraga (cabor) panahan yang kualitasnya telah mencapai level internasional. Mereka adalah Azmi Saputra (26), Ahmad Ramadhani (18) dan Raza (25) untuk Divisi Compound jarak tembak 50 meter kemudian di Divisi Recurve jarak tembak 70 meter tercatat nama Dina Irmayanti (18) dan Muhammad Safi’i (18).

Menurut azmi, proses pencapaian prestasi dirinya dan kawan-kawan tidaklah mudah dan penuh dengan tantangan. Azmi sendiri baru bergabung dengan Persatuan Atlit Panahan Indonesia (perpani) Tanjung Jabung Barat sejak pertengahan tahun 2017. Sebelumnya azmi secara mandiri memulai kiprahnya dengan berlatih bersama pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kuala Tungkal di halaman sekolah.

“Waktu itu baru punya tiga busur panah dan dua lusin anak panah. Semua biaya peralatan dan operasional saya pakai dana pribadi,” kenangnya. 

Seiring berjalannya waktu, kehadiran azmi beserta lima orang temannya di perpani ternyata secara spontan memberi warna ‘lokal’ yang cukup kental bagi cabor yang dinakhodai oleh Abu Bakar (Mone) sejak tahun 2018 hingga sekarang. Dominasi putra daerah tersebut bukan tanpa sebab. Saat itu dari sebanyak 11 (sebelas) orang atlit yang ada di perpani terdapat 6 (enam) orang yang merupakan putra daerah asli tanjung jabung barat. Sedangkan sisanya berasal dari jambi.

“Sebelum kami bergabung, seratus persen atlit perpani tanjab barat berasal dari luar daerah,” ungkapnya.

Sejak saat itu, azmi bersama atlit panahan lainnya mulai mengikuti kompetisi panahan baik skala lokal maupun nasional. Pada bulan september 2018, Azmi bersama dua orang rekannya mengikuti even UNY International Archery Open Turnamen di Yogyakarta. Even ini diikuti oleh ratusan peserta dari seluruh indonesia dan juga dari luar negeri seperti thailand, malaysia, brunei darussalam dan india. Pada kompetisi tersebut, azmi dan kawan-kawan berhasil meraih peringkat 4 (empat) besar divisi barebow beregu putra dari total sebanyak 15 (lima belas) regu dan ratusan peserta perorangan. Bulan nopember 2018, Perpani Tanjab Barat kembali mengirimkan sebanyak enam orang atlitnya untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) di jambi. Walhasil dari Kelas Beregu Divisi Standar Bow, mereka sukses menyabet 1 (satu) medali emas. Tidak berhenti di situ, di tahun 2019, sebanyak enam orang kembali mewakili Komando Distrik Militer (Kodim) 0419/Tanjab berlaga di Kejuaraan Panahan Panglima TNI Cup di Mabes TNI Al Cilangkap, Jakarta Timur dan salah satu putra daerah tanjab barat berhasil masuk peringkat 10 (sepuluh) besar kelas individual divisi bare bow 20 meter atas nama wendra. Masih di 2019, atlit PERPANI Tanjab Barat juga mengikuti Kejuaraaan Daerah (Kejurda) Pra Kualifikasi Porprov Jambi XXIII/2020 di Kabupaten Bungo dan berhasil merebut sebanyak 21 tiket. Kemudian di awal 2021, azmi dan muhammad safi’i mengikuti Open Turnamen Regional Se-Sumatera di jambi dan berhasil masuk peringkat 10 besar di divisi compound jarak tembak 50 meter dan 3 besar di kualifikasi recurve 70 meter se-provinsi jambi.

Pada wawancara santai di kediamannya di jalan nasional kuala tungkal, azmi yang notabene merupakan jebolan Jogja Archery School (JAS) tahun 2016 ini sempat bercerita tentang proses perjalanannya yang penuh dengan tantangan hingga meraih prestasi seperti saat ini. Semua proses itu dijalani dengan semangat dan niat yang kuat untuk mengenalkan dan mengembangkan olahraga panahan di negeri sendiri.

“Panahan ini kan sunnah rasul, olahraga yang sangat dianjurkan rasulullah. Selain itu kami ingin kawan-kawan pemuda dan pelajar punya kegiatan yang positif karena menurut kami, kita bisa membentuk karakter dan kepribadian kita melalui panahan ini,” ujarnya. 

Sementara itu di lain kesempatan, Ketua Perpani Tanjab Barat Abu Bakar saat dikonfirmasi terkait perkembangan olahraga perpanahan di tanjung jabung barat mengatakan saat ini cabor yang dipimpinnya sudah memiliki 17 (tujuh belas) orang atlit dan semuanya adalah putra-putri asli daerah. Kemudian terkait perlengkapan dan peralatan yang dimiliki, pria yang akrab disapa mone ini mengaku hingga saat ini semua masih bersumber dari dana pribadi para atlit. Para atlit lanjutnya rela menabung bertahun-tahun untuk membeli peralatan panahan karena harganya yang terbilang cukup fantastis. 

“Sebagian alat-alat yang ada dibeli dengan dana pribadi atlit dan sisanya menggunakan dana TC dan bonus yang didapat dari hasil kejuaraan,” ungkapnya.

Mone berharap kedepannya selain bantuan perlengkapan dan peralatan, pemerintah juga bisa membangun tempat latihan yang layak dan memadai, mengingat olahraga panahan ini menggunakan senjata yang tentunya memiliki resiko yang cukup besar jika di gabung dengan tempat latihan cabor-cabor lain.

“Kami berharap sekaligus juga mengajak pemerintah, ayo sama-sama membangun dan mengembangkan potensi anak daerah di olahraga panahan ini,” pungkasnya. (*)